29 June 2014

Hijab Fashion Show 2014 and Singing Contest


Sekarang ini memang lagi nge-trend Hijab. Coba deh lihat, cewek-cewek jadi terlihat makin cantik dengan hijab mereka. Kebiasaan berkerudung ini tak hanya sebagai anjuran Agama Islam, tapi juga sudah berkembang menjadi style di kalangan anak muda. Wah, ini nih yang namanya perkembangan positif di kalangan anak muda. Namun tentunya juga harus diimbangi dengan akhlak yang baik juga ya.

Well, menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1435 H, i Club Madiun mau mengadakan event seru nih. Hijab Fashion Show Competition dan Singing Contest, serta Bazaar Muslim, paha hari Minggu 20 Juli 2014 Pukul 10.00 - 17.00 WIB. Jadi biar makin seru pengalaman berhijabmu, yuk ikutan...
Singing Contest dengan syarat :
  1. Kategori 
    1. Kategori A : usia 5 - 9 Tahun
    2. Kategori B : usia 10 - 15 Tahun
  2. Pendaftaran 50 ribu, free Voucher Bazaar Muslim
  3. Menyanyikan 1 Lagu Bebas (tidak harus Religi)
  4. Minus One membawa sendiri
  5. Hadiah Juara 1, 2, 3 : Trophy & Uang Tunai Jutaan Rupiah
  6. Hadiah Harapan 1, 2, 3 : Trophy & Merchandise
Hijab Fashion Show Competition dengan syarat :
  1. Peserta : Cewek 
    1. Kategori A : usia 5 - 9 Tahun
    2. Kategori B : usia 10 - 15 Tahun
  2. Kostum Muslim Modern Casual Bebas
  3. Pendaftaran 50 ribu, free voucher Bazaar Muslim
  4. Hadiah Juara 1, 2, 3 : Trophy & Uang Tunai Jutaan Rupiah
  5. Hadiah Harapan 1, 2, 3 : Trophy & Merchandise
Segera daftar ya! Kesempatan terbatas. Hubungi i Club Jl. Bali 17 Madiun 0351 472345 / 0897 0312 972 atau follow @iclub_madiun

26 June 2014

Lomba Menulis Cerpen “Travel n Love”

dikutip dari >> https://www.facebook.com/notes/wina-bojonegoro/lomba-menulis-cerpen-travel-n-love/10154151768185179


Setiap perjalanan pasti menyisakan cerita yang tidak habis-habis. Ada suka, duka, ada kisah-kisah lucu dan menggelikan bahkan cerita cinta yang bersemi diantara derak-derak roda. Untuk itulah, PADMagz Travel Magazine bersama Padma Tour Organizer ingin menantang kamu menulis cerpen dengan tema:

TRAVEL N LOVE

Syarat dan ketentuan peserta:
  1. Peserta harus WNI, bersifat umum dan terbuka bagi siapa saja, berusia mi. 15 tahun dibuktikan dengan scan kartu identitas.
  2. Peserta wajib mem-follow akun Twitter PADMagz dan Pdma Tour di @pad_magz dan @Padma_tour, dan/atau like Fanpage facebook: Padmagz
  3. Pengumpulan naskah mulai 1 Mei 2014 hingga 31 Agustus 2014.
  4. Naskah yang lolos seleksi akan diumumkan pada tanggal 1 Oktober 2014  melalui Twitter dan Facebook.
Syarat dan ketentuan naskah:
  1. Tema harus berkaitan dengan perjalanan  wisata dan hal-hal menarik yang terjadi di dalamnya.
  2. Tulisan harus berupa fiksi/cerita pendek (cerpen). Boleh berdasarkan kisah nyata tapi HARUS dikemas dalam cerita fiksi (bukan curhat).
  3. Genre bebas.
  4. Format tulisan diketik rapi dalam MS Word, font Times New Roman 12 pt spasi 1,5. Format file dalam .doc atau .docx
  5. Panjang naskah sekitar 5-7 halaman A4
  6. Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) naskah
  7. Naskah HARUS asli dan BUKAN jiplakan/saduran/terjemahan baik sebagian maupun keseluruhan.
  8. Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba sejenis dan TIDAK pernah dimuat di media apa pun (cetak dan online) dan di mana pun (Nasional/lokal).
  9. Wajib mencantumkan biodata singkat, foto diri terbaru beserta nomer telepon yang bisa dihubungi di akhir naskah.
  10. Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (bukan badan email) ke alamat padma.surabaya@gmail.com dengan subjek: NULIS YUK – [Judul Naskah]
  11. Naskah yang tidak memenuhi persyaratan di atas dianggap GUGUR dan TIDAK akan diseleksi oleh dewan juri.
  12. Jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran baik Hak Cipta maupun pidana pada naskah-naskah yang lolos, penyelenggara berhak menganulir naskah tersebut dan mengajukan tuntutan sesuai dengan Undang-Undang dan hukum yang berlaku.

Di akhir periode, diumumkan 15 naskah yang lolos seleksi oleh dewan juri yang terdiri dari para penulis dan sastrawan Nasional (nama-nama juri dirahasiakan demi independensi). Naskah-naskah terpilih akan dibukukan dalam satu antologi cerpen bersama. Dan, hadiah yang menanti bagi para penulis yang beruntung tersebut adalah:
  1. LIBURAN KE LOMBOK GRATIS SELAMA 3 HARI 2 MALAM untuk 5 naskah pemenang utama, termasuk tiket pesawat Surabaya-Mataram PP dan akomodasi berupa hotel dan fasilitas setara bintang 4 + piagam penghargaan.
  2. 10 naskah favorit pilihan dewan juri mendapat hadiah uang sejumlah Rp 500.000,- + piagam penghargaan.
Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah menulis ceritamu sekarang!

12 June 2014

JARAK


Aku berharap hujan turun deras malam ini. Mengalirkan kerinduan pada dia, yang sedari tadi bilang, “sebentar lagi”. Sudah satu jam lebih aku menungguinya. Setelah dua tahun aku tak bisa menemuinya. Selama dia dalam masa karantina, saat dimana manusia dikembalikan menjadi benar, begitu menurut para ahli kejiwaan. Dan kebenaran yang tak pernah kudapatkan dari orang lain selain perempuan sempurna itu. Wajahnya ayu, tubuhnya gemulai, dan senyum menggoda. Tapi aku tak benar-benar bisa mendapati senyumnya lagi.  Perempuan dengan kesempurnaan yang membawanya melampaui kenormalan manusia, dan tak bisa dihentikan pada titik klimak, dia terus melaju, melompati kewajaran sebagai manusia. Dia gila.
Aku pun hampir gila jika terus menungguinya, maka kupinta hujan turun dengan deras, supaya dia tak lagi merasa mendusta, ini akan menjadi alasan tepat baginya untuk tak menemuiku malam ini. Dan aku kembali meneguk kopi kecut khas Arabica yang dipanen oleh tangan barista yang menyajikannya. Seorang lelaki yang sedari tadi juga tak tentu dalam diam duduknya. Barista itu pun sedang menanti. Entah perempuan entah lelaki, yang kutahu dia sedang menanti datangnya seorang pembeli. Barista itu hanya memiliki seorang yang memesan kopi Arabica, yang hampir satu jam juga menanti, itu aku.
Kami hanya berjarak beberapa jengkal, dan tak saling menyapa, hanya ucapan pertama yang kudapatkan dari mulut barista itu, “selamat datang”. Lalu secangkir kopi Arabica datang, barista itu kembali ke tempatnya, juga dalam penantiannya, sama halnya denganku, yang sedang menantimu. Matanya seketika terbangun dalam raga yang tak pernah tidur, ketika melihat mobil hitam berhenti tepat dimuka kedainya. Aroma penasaran terpancar dalam balutan muka kaku, barista itu bangkit menuju pintu dengan kalimat sama dia mengucapkan, “selamat datang”.
Seorang perempuan di ujung pintu menyambut senyum barista, merekah merah melepaskan rasa kangen. Senyum kecil sebagai basa basi pembuka sebuah pelukan, hangat, erat. Aku pun merasakan. Pelukan itu yang ingin kuberikan padamu, yang kunanti sejak satu jam tadi. Pelukan yang tak juga mampu kuberikan padamu, perempuan gila. Barista menuntun perempuan itu menuju sebuah meja yang telah dipesan. Tanpa bertanya, barista menuju dapur lalu mengambilkan pancake yang sudah membeku dengan topping yang sudah tak ayu, dan beberapa irisan stroberi yang berceceran ditepian piring. Perempuan itu terkejut, bukan karena pancake yang tak cantik, bukan karena rasa nikmat atau tidak. Dari senyumnya yang melebar, aku tahu itu adalah pancake kesukaannya. Tak perduli tentang rasa atau tata, pancake itu dilahap hingga habis oleh si perempuan.
Barista tak lagi murung, karena setelah kedatangan perempuan itu, datanglah seorang, dua orang, tiga hingga banyak orang memenuhi kedai kopinya. Mereka datang berpasangan, ada pula yang beramai-ramai. Kelompok manusia itu melepas rindu, menyatu dalam lantunan lagu, Payung Teduh. Mereka bahagia. Sementara aku masih menanti, seorang perempuan yang kuyakini akan membuatku bahagia, bukan untuk malam ini saja, namun selamanya. Perempuan yang tak pernah bisa terhapus oleh waktu.
Sekarang sudah dua jam tepat aku menunggumu. Kukirim lagi pesan pendek, “aku masih disini. Kamu dimana?” Semenit, dua menit, dan sudah setengah jam, tak ada pesan balasan. Barangkali kau tertidur, atau kau lupa menyalakan bunyi sehingga kau tak tahu aku mengirimkan pesan untukmu. Dan barangkali kau sudah pergi, dalam perjalanan, dan hampir sampai. Sehingga tak sempat untuk membalas pesan ini. Dan aku masih duduk terdiam di ujung ruangan kedai kopi ini, dengan secangkir Arabica.
Kini, sudah tiga jam. Mataku tak pernah mau lepas dari setiap gerak jarum yang menggodaku untuk menilik inbox dalam handphone, berupaya mengumpulkan rasa rinduku, yang menandai sudah berapa lama aku disini untuk menungguimu. Penantian yang hampir sama dengan seorang barista ketika sore tadi, yang telah dia dapati perempuan yang dinantinya. Sementara aku masih menunggumu. Tapi, aku tak segusar muka barista. Aku duduk nyaman, tak segalau barista. Dan, aku tak pernah menyiapkan kado istimewa seperti barista dengan pancake yang sudah membeku dengan topping yang sudah tak ayu, dan beberapa irisan stroberi yang berceceran ditepian piring. Aku tak pernah menyiapkan apapun untukmu.
Sama halnya ketika aku nekat mengajakmu mendaki gunung, aku tak pernah menyiapkan apapun. Aku percaya, alam menuntun kita pada tempat yang benar. Seperti kebenaran yang kudapatkan pada seorang perempuan, dirimu. Dan kau temukan kebenaran yang melampaui akal manusia, kau gila. Kau mau menemaniku mendaki tanpa perlengkapan apapun. Kau tak takut pada maut, selama bersamaku. Kau bersiap menyerahkan apapun, karena kau telah mendapatkanku. Tapi barista itu, menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya, duduk di depan seorang perempuan penggila pancake, yang datang tepat pada saat pancake itu disimpan dibalik meja rahasianya. Aku tak punya apa-apa untuk memberikan kejutan indah untukmu. Aku memiliki rindu untuk kau tertawai atau kau tangisi. Aku menyisakan sesak yang memenuhi rongga dadamu, yang setiap pagi kau elus dengan tetesan air mata dalam setiap doa yang kau panjatkan. Aku memiliki janji untuk terus membahagiakanmu, dalam suka dan duka. Aku memiliki keberanian yaitu menikahimu dengan kenekatan anak manusia.
Dua tahun aku tak menemukanmu. Kau tak mendapatiku. Meski kita sama-sama ada. Dalam sebuah waktu yang berjeda. Dalam ruang kosong, kau mampu menembus adaku. Kudapati tangisanmu di tengah malam selepas kau meninggalkan panti rehabilitasi. Selepas kau menanggalkan rasa pahit yang kau nikmati dalam setiap detik tak kutemui. Aku bersalah telah membiarkanmu sendiri. Kau menanti. Aku menanti. Alam mempertemukan kita, malam ini, di sebuah kedai kopi, ketika kuseduh Arabica, dan kau sedang asik berbincang dengan barista yang memberikanmu pancake istimewa. Kau bahagia dengannya, bukan dengan aku yang tak bisa kau temukan. Aku duduk beberapa jengkal dari tempatmu.
“siapa yang pesan kopi itu?”
“seorang lelaki yang katanya sedang menanti istrinya.”
“dimana dia?”
“entahlah, kopinya juga masih utuh.”
Aku menyesal telah mengajakmu mendaki, mengantarkan kita pada perpisahan. Aku menyesal telah membuatmu gila, karena tak lagi mampu mengecupku pada setiap pagi. Aku masih duduk disini, tak pergi kemana.


Budiman Sudjatmiko Mau Jadi Presiden

saya baru sempat posting.

Pulang kerja, saya diajak suami untuk datang di acara bedah buku 'Anak Anak Revolusi' karya Budiman Sudjatmiko. Wah, saya langsung senang meski badan sudah lelah, saya kerja dari jam 8 pagi, pulang jam 8 malam. Namun ini bedah buku, jadi saya wajib datang, karena saya memang sedang serius menulis dan ingin menerbitkan buku.

Begitu sampai di venue, saya terkejut. Merah-merah dimana-mana. Ini kampanye? Positif thinking. Saya fokus ke bedah buku, saya cinta buku. Setelah duduk hampir satu jam, saya menyimpulkan, ini bedah buku yang bermuatan kampanye. Dan, baru saya tahu siapa Budiman Sudjatmiko. "Dia aktivis yang cukup populer di jaman mudaku." seraya suami saya menceritakan siapa Budiman Sudjatmiko ini. Oh pantas saja, saya merasakan masa-masa ketika masih sekolah dasar, dipaksakan mengenakan atribut partai berlambang banteng oleh Bapak saya (almarhum), dan diajak keliling kampung beriringan dengan reog dan bau akohol menyebar kemana-mana. Mereka teler, mereka pesta politik.


Bajingan. Dalam hati saya.

Saya berubah menjadi sangat tak peduli terhadap politik sejak paksaan ikut kampanye ketika masih sekolah dasar itu. Apalagi menilik perkembangan Indonesia yang ngga jelas kemana perginya moral, kemana letak pengabdian, dan tetek bengeknya yang bikin saya semakin jengah mendengar kata Partai Politik.
Bagi saya, tak ada satu orang pun yang benar-benar baik. Tak ada manusia yang tercipta sangat sempurna. Hanya mereka yang pada awalnya berjuang atas nama rakyat, kemudian terbentur kebutuhan ekonomi, menjual jabatan untuk menafkahi anak istri. Bukankah itu benar? Sebagai tokoh masyarakat memang salah, tapi mereka manusia yang memiliki keluarga. Menjadi kepala keluarga untuk anak istrinya.

Makanya, tak pernah sekalipun saya mempercayai ada manusia yang benar-benar mengabdi untuk negara. Mengabdi untuk keluarga saja masih butuh perjuangan, kan? Saya tak berharap banyak kepada orang-orang yang ingin diakui hebat dan membutuhkan dukungan. Saya tak pernah berusaha menjegal langkahnya. Saya hanya mampu mendoakan, "Semoga niat baikmu bisa terlaksana"

Ah, saya kembali mikirin politik. Fuck!

Lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk bertanya pada sang orator, Budiman Sudjatmiko, "Om, mau jadi Presiden?" dan lelaki tua itu menjawab, "iya."

07 June 2014

Bertemu Teman-Teman Nge-Blog

Minggu ini beda banget dari hari-hari biasanya. Saya bersama beberapa orang yang sama-sama doyan nge-blog. Mereka yang punya waktu luang untuk berkumpul dan sharing tentang blog ~ ini melebihi komunitas dengan bendera besar yang ingin dianggap terus eksis dengan sering berkumpul. Ada yang sudah pintar, belum bisa, dan ingin menjadi bisa nge-blog.

Acara ini diprakarsai oleh tiga teman saya dari Ponorogo, yaitu Yuda Taufiqurrahman, Ronie, dan Daffy. Mereka jauh dari Ponorogo ingin datang ke acara Workshop Weblog untuk berbagi ilmu. Ini luar biasa! Dan bersama teman-teman yang lain, yang baru saya kenal diantaranya Stanley Wijaya, Tegas Imam Ramadhan, Aulia Ahmadi, dan Annisa Istiqomah.

Kami bersama-sama belajar tentang blogging. Ah, ini hari Minggu yang paling seru ketimbang nonton tv dirumah, atau males-malesan di kasur. Okelah, saya menjadi blogger dan punya teman blogger!

Kalian perlu kenalan dengan teman-teman saya melalui :
@Jidat @roniemedia @TegasIR @mukti1st @dafhy @auliasupport @nofuckoholic Be

02 June 2014

STILL, YES!!!!


Kamu pernah merasa lelah? Dengan segala tenaga yang telah dikerahkan, kau berpikir akankah jalan itu menjadi ujung dari bahagia yang kau tunggu. Akankah kau temukan tikungan tepat yang telah tergambar dalam setiap mimpimu di malam hari. Kehidupan yang tak tau dimana dan bagaimana kau cara menikmatinya. Aku menjalaninya. Kau akan menjalaninya. Kita pasti menjalaninya.

Aku menikmatinya, di setiap malam yang tak tahu ini saat untuk tertidur atau harus terjaga? Saat untuk bercinta atau memuja. Dan kepada siapa, pujian serta donga ini disengajakan. Untuk sesuatu yang masih dicari letak koordinatnya. Aku tak menemukannya. Kau pun tak menemukannya. Kita belum pasti menemukannya.

Aku ingin bilang, aku terus melangkah, meski ini melelahkan.