29 October 2009

SETENGAH TELANJANG


saya akan menikah.
karena waktu itu sudah datang. karena terlalu banyak tanya, 'kapan'. karena cinta bukan yang utama. karena perbedaan yang harus disatukan. karena hanya kunci yang mampu membuka gembok. karena kita terdiri dari aku dan kamu. karena kebudayaan untuk disatukan. karena agama hanyalah sebuah ageman (pakaian). karena pelangi terdiri dari merah jingga kuning hijau biru nila ungu. karena telinga, mata, kaki, dan tangan ada sepasang. karena kami akan beranak pinak menjadi banyak.

terimakasih untuk kau yang sudi setengah telanjang demi birokrasi. saya percaya, apapun 'pakaian' yang kau kenakan, kau tetap ber-martabat.

tetaplah bersinar, menembus pekatnya hidup.

27 October 2009

PUISI CINTA



cintaku padamu ... seperti :
kopi, yang menghangatkan.
pagi hari yang selalu mengawali harimu.
alarm, yang senantiasa mengingatkan.
kado, selalu mengejutkan.
mawar merah, mengharumkan.
guyonan, yang mampu buat kau tertawa terpingkal.
pantai, yang membuatmu ingin kembali.
malam hari, yang mengantarkanmu kepada mimpi.


25 October 2009

DOA DALAM KANTIL


sore, pukul setengah lima, saya sudah bersiap. ini kedua kalinya, saya dan ibuk ke rumah dukun. yang pertama, hari Minggu, lupa tanggalnya, jam setengah lima juga. selalu setengah. sama halnya dengan rasa setengah hati untuk melangkah kesana.

sampai di rumah dukun, gang pertama rumah ketujuh, warna hijau. seorang pria, usia hampir sama sepertiku. "Saking pundi?" pria muda itu bertanya. saya hanya menoleh ke ibuk, "Nambangan mas, badhe..." belum selesai ibuku menjelaskan maksud kedatangan kami, "Monggo pinarak... panjenengan entosi sekedap." pria muda masuk kamar, hilang dibalik selambu.

wanita tua dengan keriput di muka. kulitnya putih bersih. baju putih motif hitam, sama seperti baju yang saya kenakan. kami duduk bersila di sisi kirinya. sementara di depan kami, bunga mawar merah dan kenanga setengah layu memenuhi ceteng hijau. kalau boleh saya menebak, bunga mawar itu dibeli pagi tadi. sementara kenanga, kemarin sore mungkin.

"Badhe tangklet wayah bu..." ibuk membuka percakapan.
"Iyo nduk, nek dudu kowe sing rene, aku ora tangi. awakku rodho ra penak. guloku wolung atus patang puluh lima. wes seminggu, aku ora nrimo tamu." ucap wanita tua, yang saya sebut bu dukun. mestinya saya memanggil mbah, karena dia sudah tua. tapi sebutan 'Bu' sepertinya lebih ngajeni, ketimbang 'Mbah'.

"Jon... Joni..."
seorang bernama Joni tak menyahut, malah pria muda yang saya jumpai di ruang tamu, "Mas Joni taksih medhal Bu... wonten napa?"
"Bukune sing nyimpen Joni, arep njaluk tulung golekne nggone wayah sing apik. sakjane kabeh dina ngono kuwi apik nduk. tapi ya kudu di pitung, ya tho?"
"Inggih." saya dan ibuk menyahut serentak.

tak lama kemudian, Joni datang dengan satu pak korek. diambilnya tiga kotak, diberikan kepada bu dukun, dan sisanya disimpan di almari dekat tumpukan buku ramalan.
"Le, golekno bukune ibuk"
benar. Joni mengambil buku ramalan yang saya pandangi sedari tadi.
"Menika bu, korekipun siyos...?"
"Ora le, ora arep nyumet... cumak ngitung."
Joni pergi. kini kami bertiga. bu dukun membolak-balik buku ramalan. seperti yang Anda tahu, buku tua, dengan kertas ratas, saya jadi ingat buku Pepak Bahasa Jawa. warnanya hampir sama. rupanya juga, sangat tua dan lusuh, namun bernilai tinggi. semakin tua, semakin langka.

"Jam pitu esuk nduk, apik kuwi... opo jam loro awan? milih wae." bu dukun menutup bukunya. meyakinkan ibuk bahwa jam tujuh pagi atau dua siang, adalah waktu yang baik.
"Jam kalih mawon bu... jam pitu niku kesuleten, enjing sanget." ibuk mengkonfirmasi juga, setelah memandangi saya tanpa bertanya, hanya butuh jawaban melalui wajah bingung saya.

bu dukun mencari-cari sesuatu. "madosi napa bu?" tanya ibuk. "golek adah nduk. nang kono enek pora, golekno plastik sak eneke..." pinta mbah dukun, kali ini dia menatap saya, mengharap bantuan. saya pungut dari tempat sampah, tas kresek warna merah, ada kelopak mawar merah tertinggal di dalamnya. benarkan?? mawarnya dibeli pagi tadi.

bu dukun mengambil setangkai bunga mawar tanpa batang, dari ceteng. ditaruhnya ke dalam plastik kresek, kemudian kantil putih, dibelah satu sisi di badannya yang lonjong. sambil mengucap doa, kantil diremas-remas. seakan melalui jemarinya, bu dukun sedang menyelipkan doa ke dalam kantil tersebut. doanya terlalu cepat untuk saya simak. namun saya bisa menangkap maksud doa bu dukun : 'Maut ada di tangan Gusti Allah, tapi tolong jaga dan lindungi .....' bu dukun terdiam sejenak, lalu menanyakan nama ibuku.
"Yayuk."
bu dukun melanjutkan doa. bungkusan itu sudah berpindah tangan, di saku ibuku.
"Kembang iki di kum ya nduk." bu dukun berpesan.
"Diunjuk napa mboten bu?"
"Iyo nduk... ampreh penak olehmu ngandani wong liya, perkara hajatanmu kuwi mau."
"Inggih bu."

kami pamit pulang, setelah lipatan amplop diselipkan diantara mawar merah di ceteng, oleh ibuku.



24 October 2009

MONEY


terjemahan dari posting tanggal 9 Desember 2008

Money can make people forget the meaning of happiness. Money also makes people greedy. And because of money, we become slaves work. Now it's time we know and understand, that money can not create a happiness. Money can not make us full. Money is not the answer while we are sad. Money is not the reason, why we walk alone and not with the other arm. Happiness is created by ourselves, no and no money though! No need to be rich to eat well. Not to be rich to be able to laugh until laughing. Not got rich if only with a bit of money we could have lots of friends. Which do you choose? Rich or Happy?

KISAH LAPAK JAJAN


saya sedang duduk di kursi tunggu pasien. kursinya tidak nyaman, sama halnya hati ini. deg-deg-deg-deg-deg-saya lupa berapa kali bunyi deg terdengar. saya menanti dipanggil.

seorang ibu yang dulunya masih muda, kini sudah terlihat menua. tapi tak ada yang berubah darinya, dia masih duduk di belakang lapak berisi onde-onde, kue lapis, donat, lemper, kacang klici, hmmm apalagi ya itu? dari jauh saya melihat warna hijau-hijau... seperti putu ayu mungkin, karena terdapat parutan kelapa muda di atas kue hijau empuk itu.

di samping ibu penjual jajan, ada seorang anak berusia kira-kira delapan tahun. usianya sama persis denganku, dua belas tahun yang lalu. saya juga duduk di samping lapak itu. saya juga memandangi jajanan itu. mengamatinya lama, membayangkan andai kue itu berpindah ke tangan saya, pasti akan segera kulahap. habis. anak itu juga begitu, nampaknya.

sementara ibu sang penjual tersenyum senyum, dan sesekali menawarkan kue itu pada anak tersebut. si anak hanya diam. mundur selangkah, lalu memanggil mamanya.

mamanya menyodorkan isi dompet kosong, tak ada uang, hanya karcis loket Puskesmas dan beberapa lembar kertas, entah apa itu.

anak itu menelan ludah. berusaha menjauh dari lapak jajan, berlari kesana kemari, mencari pelarian dari keinginannya.

saya merasa sedang melihat cermin kehidupan masa lalu. kau sama denganku nak! tak semua yang kau inginkan, bisa tercapai. tapi jangan berhenti berimajinasi.

"Ibu Septi Trisnasari..." saya segera menuju ruang Laboratorium.

21 October 2009

SAYA RINDU (YANG LALU)


saya rindu : ketika mendung sudah di ujung kepala, tak sampai satu meter. namun, saya dan kalian, teman-teman, nekat membaur di lapangan basket milik sekolah negeri Madrasah Aliyah. ditengah hujan yang cukup deras, kita terus melaju berlari mendekati ring basket. berburu dan membuat haru.
(untuk teman-teman tercinta : David, Sugeng, Novri, Ari Timboel, Ardian Siel, dan 2 orang lain yang namanya tak mampu saya ingat)

saya rindu : mengendarai motor baruku, selepas masa sekolahmu di Menengah Atas. kita menuju Jogjakarta tanpa surat ijin mengemudi, nekat namun selamat. selalu bebas dari operasi Polisi. kita adalah sepasang teman yang hebat ya? itu tanyamu, dan saya hanya menjawab : iya.
(untuk : neneng)

saya rindu : duduk di tempat jemuran, lantai atas rumah kost. berbaring diantara genting-genting coklat. ada beberapa yang pecah, karena tak mampu menopang berat badanmu. dua cangkir nescafe dan torabika tersaji di lingiran genting. kau memulai menghisap, dan saya mengikutimu. kita berangan tentang masa depan, seakan jawaban mampu kau temukan di langit biru.
(untuk : Lestari Hamdani)

saya rindu : tawa lepas di tengah malam larut, bersamamu. puluhan puntung rokok, tak terhitung. 'yang penting senang' itulah semboyan kita. karena kita masih muda, kala itu.
(untuk : Dewi Trisna Saputri Boru Harahap)

saya rindu : tetesan air matamu. kau selalu mengadu. pilu. saya berusaha keras menghiburmu dan menahan pula air mata yang tak sanggup terbendung. kisahmu tak kan terlupa olehku. hari itu juga, saya berjanji : sedihmu adalah sedihku. sedihku biarkan untukku, tak ingin kubagi padamu. sudah cukup penderitaanmu.
(untuk : Ibuk)

DINDING HATI YANG RENTA


saya tak pernah tahu seberapa renta dinding hatimu. saya hanya paham, bagaimana membuat hatimu terluka. menyakiti hatimu memang mudah. seperti menelusuri dadamu dengan sebilah pisau, dan saya tak perlu cemas arah garisnya, kulitmu lunak. hatimu juga lunak. itulah rentanya dinding hatimu, mudah robek.
saya selalu mengejar kepuasan hati. bagaimana membunuh mati hatimu. JLEP.
segala upaya saya lakukan. jika hatimu terbakar oleh api, sengaja saya datangkan setumpuk api dari penjuru api neraka, untuk membakar hatimu. kalau hatimu terbuat dari pasir, pasti kusiram dengan ribuan galon air laut, supaya kalis, hanyut dan tak tersisa. apapun saya lakukan, agar kau sakit. inilah intinya. itulah kejamnya pembalasan yang saya lakukan ketika saya sakit hati, dulu. sudah berapa kali saya melakukan ini? lupa. sudah teramat sering, saya mengeja raga untuk menjadi lakon jahat.
saya juga pernah sakit hati. perih. terbakar. hanyut tak bersisa. hingga, saya terlalu hapal dengan rasa sakit, semudah saya menyakitimu kembali. inikah cara terbaik untuk membalas dendam? saya menemukan, hati saya juga sangat renta. saya dan kau akhirnya sadar, ternyata dinding hatimu, hatiku sama-sama renta. bagaimana jika hari ini, kita berjanji untuk tidak saling melukai dinding hati yang renta.