21 March 2015

LAKUKAN YANG BENAR, BUKAN YANG MUDAH. KEBAIKAN ITU RELATIF, KEBENARAN ADALAH MUTLAK



Saya masih ingat, dua tahun yang lalu, tepatnya 1 Februari saya diberhentikan kerja oleh supervisor melalui sms. Katanya kontrak kerja saya tidak diperpanjang, namun saya disuruh membuat surat resign. Karena saya terlambat mengirimkan laporan penjualan, sementara performa kerja saya diatas rata-rata sales lainnya. 

Kemudian setelah kehilangan pekerjaan, saya hamil anak kedua. Disana hidup yang sebenarnya dimulai. Rupiah demi rupiah dikumpulkan dengan sangat hati-hati supaya tak salah perhitungan lagi. Namun malah terjebak pada hutang bank karena mencoba berwirausaha. Semua tak seindah rencana. 

Pindah-pindah kerjaan hingga kerja sambilan saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tanpa saling menyalahkan, saya dan suami menjalani dengan susah payah. Percuma jika hanya saling melempar kesalahan. Satu pelajaran dalam hidup, ‘Carilah solusi’.
Kemudian, saya mendapatkan tawaran pekerjaan dari seorang relasi. Bukan teman dekat, apalagi sahabat. Murni dari kenalan dan pernah kerja bersama. Sebagai marketing, dan saya terima. Karena saya memang butuh uang. Saya melakukan pekerjaan sesuai dengan job deskripsi, dan menghasilkan hal positif. Baru delapan bulan, saya mendapatkan promosi jabatan sebagai manager.

Ini bukan hal yang mudah, bahkan terlalu cepat bagi saya yang belum lama berkecimpung di dunia kuliner. Namun tujuan saya hanya satu, mencari uang untuk makan dan masa depan anak-anak. Inilah yang menjadikan tanjakan yang saya lalui terasa mudah untuk didaki. 

Saya diikutkan seminar, di sekolahkan setiap dua minggu sekali, dan dibekali banyak ilmu untuk menjadi seorang pemimpin yang sesungguhnya. Saya tersadar, menjadi pemimpin memang tak mudah. Tak indah. Disini bukan soal gaji, bukan soal gengsi. Namun tanggung jawab. Bagaimana mengesampingkan toleransi karena kedisiplinan adalah sebuah kunci.
Saya berusaha menerapkan ilmu yang telah saya terima, ‘Melakukan yang benar, bukan melakukan yang mudah’. Pekerjaan saya tak mudah. Tapi saya dituntut melakukan yang benar. Baik dan benar menjadi kunci yang harus saya kendalikan. Baik adalah relatif, sesuai sudut pandang. Sementara benar, tak bisa disangkal, siapa saja akan menjadi satu suara meng-amin-i tentang kebenaran.

Bagi sebagian anak buah saya, barangkali saya tidak baik, tapi saya melakukan yang benar. Ini yang susah diterima. Kemudian, hari ini saya ingat kembali kejadian dua tahun yang lalu ketika supervisor memecat saya karena saya terlambat mengirimkan laporan penjualan. Sementara penjualan saya diatas rata-rata. Saya anggap Supervisor tidak baik, karena dia tak punya toleransi, tapi Supervisor telah melakukan tindakan yang benar, yaitu kedisiplinan. 

Barangkali butuh waktu dua tahun pula bagi anak buah saya untuk mengerti makna BAIK dan BENAR. Saya harap lebih cepat!