23 December 2012

ICE CREAM

kamu itu seperti es krim. lembut nan dingin. anyep!
mudah meleleh hanya dengan diumbar semenitan.
senyummu sudah mirip seperti kepulan embun,
yang meletus dari gunungan padat es krim.

kamu memang es krim. 
suka dijilat, dan siap menggeliat!



20 December 2012

KUBUS COKLAT

hey, ada kubus coklat dalam ruang hampa,
tempat berpulangnya setiap kepakan sayap yang hampir patah.
ada setumpuk fakta yang mulanya hanya sebatas wacana,
tesusun menyesak dalam kubus coklat.

ribuan tapak kaki menjejal dan mulai membual,
mengira jika setiap langkah mampu pecahkan masalah.
menganggap ruang pengap tak layak dijadikan tempat menginap,
sebuah batas hanyalah penyekat samudera lepas.

dan hey, kubus coklat mulai menggeliat,
dalam gelap, sebagai mufakat atas segala nikmat.
atas rasa bejat dan bukan hanya penebusan sesaat,
kubus coklat ingin dianggap bukan hanya tempat pengap.

disudut rasa yang berlumur dosa,
disegala panca indera yang berbusa,
diujung semua rasa bersalah,
biarkan kubus coklat berserah.

19 December 2012

SHAPE OF LOVE

jika ada, senja yang berpulang pada ujung bibir pantai, terbenam dalam deburan ombak kelam, dan tersapu oleh hamparan langit biru, apakah bisa kusebut ini cinta?

dan sudah tak terhitung berapa biji usiaku, apalagi jika harus kukumpulkan batang lidi untuk mengejanya, bahkan telah samar tombol alat hitung untuk mengkalkulasinya, selama itukah aku harus menunggu cinta?

demi sebuah lorong panjang tempat melintasnya laju kereta, aku berbaris dalam tatanan balok, terangkai dan tersambung, bertumpang tindih dengan kepalan besi panas, terpatri menjadi landasan, untukmu-kah aku harus menjadi begini, cinta?

lalu, tentang angin yang berhembus pelan mengitari helaian rambutmu, menguraikan koloni yang maunya hanya menyatu, pada sebuah tanah lapang di bawah bandulan aneka warna, dan kau kibaskan rambutmu yang coklat. aku kan menjadi angin yang mencuri aroma keringat lehermu, bau cinta.


14 December 2012

KAU DIMANA?

sudah kuseduh udara pagi yang mengumbar dari kepulan adzan subuh. Tak kutemui kau disana. Telah juga kurapatkan  raga pada nyawa yang selama ini selalu ingin berjauhan, tak mau mendekat meski hidupnya tak pernah bersekat.

kau, 

tak mudah untuk dijamah, sulit untuk digapit, meski telah kusebar jaring pukat di lautan, hingga perahuku hilang arah kompas di tengah samudera lepas. Tetap saja, tak kutemui kau disana. 


kau,

seperti papan kayu bundar dengan garis-garis melingkar, tempat pulang setiap jangkar yang selalu ingin berkelakar. Dengan busur panah, kuarahkan mata besi cinta menitik pada pusat jiwa, dan kau tak juga kutemui dimana.

aku,

sudah jauh berkelana menapaki setiap tikungan, lantas berharap kau mampu kutangkap, dengan perangkap tipu muslihat supaya kau bisa terjerat dalam sebuah cinta yang bersenandung doa.

kau,

Tak pula ada disana.

05 December 2012

JIKA AKU ODHA



Barangkali kita masih awam dengan istilah ODHA. Karena penyakit ini memang selalu dianggap sebagai aib. Jadi tidak heran jika pada akhirnya menjadi tabu. Ketika saya SMA, sudah mulai dikenalkan dengan istilah ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), tapi belum ke tahap aplikasi mengenai penanganan, dan menghadapi orang-orang penderita HIV AIDS. Kenapa? Ya karena itu tadi, masyarakat masih menganggapnya sebagai sebuah ancaman bagi generasi muda. 

Baiklah, memang tidak salah jika kita menganggap HIV AIDS sebagai ancaman, karena memang penyakit ini bisa membinasakan. Namun, apakah hanya dengan berwacana “HIV AIDS adalah ancaman”, lantas generasi muda akan terbebas dari ancaman tersebut? Belu tentu!

Seperti halnya, ketika seorang anak disuruh orang tuanya belajar. Tanpa diberikan penjelasan kenapa seorang anak harus belajar, saya rasa percuma saja. Karena menurut saya, tanpa mengetahui alasan yang mendasar, percuma seseorang mati-matian berupaya. Yang ada hanyalah rasa penasaran dan berujung pada keinginan untuk mencoba.

Jujur saja, saya hingga saat ini belum pernah menjumpai orang penderita HIV AIDS. Bukan karena tidak ingin, tapi memang saya tak mengetahui keberadaan mereka.
Mereka (ODHA) seperti disendirikan dalam kelas masyarakat. Dianggap sebagai suatu borok dalam siklus kehidupan. Menanti waktu untuk dikuburkan. Bahkan ada pula yang ogah-ogahan untuk ikut menyembayangkan. 

Sampai kapan kita akan menganggap mereka sebagai binatang? Jika mati selalu dianggap sebagai bangkai. Seperti tikus yang mati keracunan, dan tak satupun mau mendekat. Bukankah ODHA juga manusia? Yang ketika hidupnya pernah bergaul dengan kita. Menjadi ODHA bukanlahs ebuah cita-cita. Bukan pula pengharapan. Tak ada yang mau menderita seperti mereka. 

Bagaimana jika, kita adalah penderita HIV AIDS? Apakah mau diasingkan? Ketika kita patah hati saja, ingin sekali menangis tersedu di pundak sahabat. Lalu berjam-jam ingin terus didengar. Yang dibutuhkan ODHA adalah kehangatan dalam perbuatan dan kata-kata. Tanpa kita sampaikan, mereka sudah tahu hidupnya tak kan lama. Mereka hanya ingin menghabiskan sisa waktunya untuk tersenyum, seakan lupa jika ada luka yang selalu menganga.

Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Tak perlu pusing memikirkan hal tersebut. Bayangkan saja, kalau si ODHA adalah kita. Apa sih yang kita inginkan? 

Jika saya sebagai ODHA : Ingin terus menjalani hidup seperti biasanya. Tak kan berhenti berkarya hingga saya benar-benar tak mampu melakukan apapun. Ingin lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Dan berharap selalu ada orang-orang yang selama ini berada di lingkaran cinta.

Lalu bagaimana jika Anda adalah ODHA? 

30 November 2012

REVIEW : MADIUN PHOTOGRAPHY EXHIBITION

Beberapa karya fotografer muda yang rata-rata masih SMP

Accoustic Live by Rainbow And The Sun

Bedah Karya di hari kedua Pameran

Visitor Pameran ada yang dari luar negeri, kebetulan pas makan di i club Madiun

Kalau ini foto karya saya, berjudul "Life is About Transparency"

21 November 2012

BUKAN DEWA

... dan saya akan menyimak dari sisi jinak
bahwa manusia bukanlah dewa
... lantas saya menjadi berangas!
ingin menumpas hingga tuntas

tapi, buat apa?

sekali lagi menghela napas, 
hingga hembusan paling panas.
... dan saya berkali-kali menampar muka
saya ini manusia, bukan dewa

tapi, mengapa?

mengapa harus ada prasangka,
bukannya hati sudah cukup bijaksana?
kenapa mementingkan murka,
jika kita sanggup berlogika?

tapi, saya bisa apa?

saya juga manusia, bisa saja terluka
karena saya bukanlah dewa

18 November 2012

TENTANG KOPI YANG (AKHIRNYA) KUSEDUH

malam ini tentang secangkir kopi yang tak segera diseduh. 
tentang waktu yang tak banyak untuk dipahami.
di satu kesempatan kupandangi peri nan cantik.
menanti ajalku di sebuah kasur rumah pesakitan.

bisa jadi inilah kopi terakhirku
mungkin saja setelahnya aku akan mati
pasti pula kutemui dirimu
seorang peri yang sudah tak sabar menanti


lewat gelap malam kau menyelinap
melalui celah cendela kau menjelma
sebentuk perempuan tanpa busana
memamerkan lekuk tubuh sempurna

kau datang untuk mengajakku bertandang
melepas segala sakit yang terus menghimpit
di satu kesempatan kupandangi peri nan cantik.
menanti ajalku di sebuah kasur rumah pesakitan.

malam ini tentang secangkir kopi yang akhirnya kuseduh
tentang waktu yang mampu kupahami


kau datang untuk mengajakku bertandang
melepas segala sakit yang terus menghimpit

kopi ini menghantarku padamu

10 November 2012

APA NAMANYA?

Apa namanya kalau ingin terus-terusan berada disisimu,
sementara mata tak ingin memandangimu?
Apa pula artinya jika aku tak bisa lepas dari jangkauanmu,
padahal raga berupaya menjauhimu?



kamu tak mampu meresap dalam sekali serapan,
butuh waktu lama dimana kita bisa merasa sama.
kamu bukan serpihan yang runtuh dari buliran keringatku,
kamu adalah sebentuk rupa yang tak mudah diraba.

Aku,
speechless! 

02 November 2012

[ADA] KOPI DALAM HATI

Ada pagi yang ujungnya terlihat berseri, dengan secangkir kopi, dan hawa dingin pagi. Dibalik selimut gambar miki, meski sendiri... inilah babak hidup yang harus dilalui.


Photo by Phillip Wibowo
Ada Norah Jones yang tak mau henti, lantas berlanjut Katie Melua, masih menyuarakan senandung yang sama, tentang cinta tanpa harus menjadi setia. Tentang kisah... bukan lagi soal pepatah.

Ada hidup yang tak ingin redup. Dalam sepi selalu ada sebait doa di dalam hati. Tersimpan rapi, tak seorangpun mengerti. 

Hidup itu tentang kebahagiaan, bukan kehampaan, bukan tipu daya, bukan pula sebuah undang-undang yang senantiasa dikumandangkan. Hidup adalah evaluasi untuk menemukan titik senang didalam hati.

Hidup saya tentang kopi dan memaknai apa yang telah terjadi.


27 October 2012

DALAM TERMANGU (catatan Lintang)

Dan malam telah tenggelam. Selepas jam dua belas. Kau mengetuk buyarkan rasa kantuk. Kau datang dengan muka melas terpampang. 
"Siapa yang mampu membuatku termangu? hanya kamu!"
Lalu kau memaksa masuk sebelum ku menanya.
"Kenapa kau tak pulang kerumah istrimu?"
Kau hanya termangu. Memang benar, hanya aku yang bisa membuatmu termangu.

Dan malam semakin kelam. Aku sudah telanjang, tanpa baju sepasang. Kau malah tidur sambil mendengkur. Jika begitu, aku pakai lagi bajuku.
"Siapa yang suruh kamu pakai baju?"
Lalu kau meminta aku untuk lepas semua.
"Buat apa aku telanjang kalau kau tak mau pegang?"
Kau lantas termangu. Memang benar, hanya aku yang selalu bisa membuatmu termangu.

Dan kini sudah jam dua pagi. Semenjak tadi aku terus begini. Telentang dengan vagina membentang. Kakiku kram, sementara kau terus mendekam. Pelan-pelan aku beralih, seperti perempuan penyapih. 

Diujung pintu kayu jati seorang istri sudah menghampiri. Hanya memandangi tak mau mencaci maki. Membunuh sendiri rasa benci. Memelas dalam tangisan deras. Istri yang berusaha bahagia meski disia-sia. 
"Titip pesan buat suami saya, saya selalu mencintainya."
"Iya mbak." jawabku dalam termangu.


23 October 2012

ANTARA GALANG DAN SUAMI JALANG

suami jalang bikin istri pusing kepalang, datanglah si bujang bernama Galang.

Galang, lelaki yang sedang bimbang, bukan karena mikirin selangkangan. Galang, terlanjur nyebur ke dalam sumur, si wanita yang sudah berumur. dua minggu selalu bertemu, si anu tak mau menunggu. "jangan ke rumah dulu, suamiku pulang dari Bengkulu"

Galang, lelaki pengganti yang selalu siap meniduri, dan berharap kekasihnya mau dikawini. "gilaaa ya kamu? aku sudah bersuami. mana mungkin mau dikawini."

Galang, lelaki yang datang ketika petang, harus mau telanjang, sehari tiga kali mekangkang. "kamu itu hanya hiburan, bukan untuk seriusan."

Galang, sudah putus harapan. Galang, tak hanya ingin dijadikan simpanan. Galang, ingin meminang perempuan bersuami jalang, yang meninggalkan istrinya setiap malam hanya untuk bersenang-senang.

suami jalang bikin si Galang punya peluang!

21 October 2012

PERTARUNGAN OBENG DAN MINYAK PENGGORENGAN

ada percakapan seru antara seorang ibu penjual tepo tahu dan anaknya lelaki yang masih berseragam biru.

anak lelaki itu bernama leo. mulutnya tak bisa berhenti menyumpah-nyumpah ibunya, layaknya burung beo. cecet cuwet!
sriatun, seorang ibu yang merasa getun melahirkan anak lelaki seberangas leo.

"kalo ibu masih mau aku sekolah, ya bayar spp nya!"
"kalo aku punya uang, pasti aku bayar spp mu nak!"
leo tak mau berhenti mengumpat ibunya yang sedang sibuk menggoreng tahu di wajan penuh minyak.

sriatun pula terus mengomeli anaknya yang sedang membetulkan ban motor pelanggan yang kena paku.

"ibu macam apa, ngga mampu bayarin spp, tapi maksa anaknya sekolah!"
"anak macam apa, sukanya bolos sekolah, tapi maksa ibunya bayar spp!"

percakapan semakin meruncing, dan masing-masing sudah mulai bertaring. tak lama, dua orang ibu dan anak telah terkapar oleh amarah yang menggelegar.

"sriatun, 47 tahun, seorang ibu tewas ditusuk obeng oleh anak sendiri. setelah menyiram minyak penggorengan ke wajah anaknya, leo 15 tahun."

07 August 2012

LINTANG

Suamiku punya binatang piaraan baru. Suka merayu dan menyita waktu.

Kau teramat sayang padanya. Hingga kau lupa ada aku dan Sina, anak kita. Binatang piaraanmu itu yang membuat jam kerjamu mundur hingga jam satu, bukan jam tujuh. Kau lewatkan ulang tahunku demi binatang piaraanmu. Uang belanja bulanan terpangkas menjadi setengah, juga karena binatang piaraanmu. 

Suamiku punya binatang piaraan baru. Lebih lucu dan pakai baju.

Kau sembunyikan binatang piaraanmu dibalik kemudi. Disanalah biasanya kau dudukkan Sina, anak kita. Binatang piaraanmu itu yang membuat Sina menunggu dua jam di sekolah, dan berjalan kaki menuju rumah. Kau lewatkan acara pengambilan rapot Sina demi binatang piaraanmu. Di kenaikan kelas, kau ingkari janjimu membelikan seragam baru Sina, juga karena binatang piaraanmu. 

Suamiku punya binatang piaraan baru. Baunya harum dan selalu ingin dicium.

Kau sendiri yang mandikan binatang piaraan dikala rumah sepi. Lidahnya selalu menjulur jika kau ajak tidur di kasur. Dia menggeliat tak bisa menahan hasrat. Dagingnya masih kencang, pantas saja kau selalu tegang melihat binatang piaraanmu itu mekangkang. 

Binatang itu bernama Lintang. Anak SMA setengah matang, dengan kaki jenjang seperti bintang iklan.

05 August 2012

KONDOM DALAM BASKOM

Ada baskom yang tak kosong. Air menggenang sejak hujan datang. 

Baskom itu sudah dua hari menampung genangan air hujan. Ada genting yang pecah, membuat air hujan masuk dengan mudah melalui celah. Bunyinya tik tak tik tak seperti cicak. 

Ada kondom dalam Baskom.

Biasanya kau tak mau pakai kondom. Kau suruh aku ke bidan untuk pasang implant. Membiarkan tubuhku membusuk oleh susuk. Aku binatang yang kau samakan dengan wanita jalang. 

Dalam mabuk berat, kita berkutat menjelajah pantat. Ketika kejang menerjang, kau panggil aku Lintang. Mungkinkah kau lupa, namaku Falie, seorang istri yang sedang kau tiduri. Sebuah kondom mengapung dalam baskom.

Ada lagi kondom dalam Baskom.

Dalam mabuk berat, kau berkutat menjelajah pantat. Ketika kejang menerjang, kau panggil dia Lintang. Kau tak ingat lagi pada Falie, seorang istri yang semalam kau tiduri. Ada lagi kondom yang mengapung dalam baskom.

Dalam mabuk berat, aku berkutat menjelajah pantat. Ketika kejang menerjang, kupanggil dia Gilang. Donatur kondom dalam Baskom.

03 August 2012

BALADA NASI GORENG

Kau tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku.

Di sisa malam hingga dingin tenggelam, kau masih menyimpan dendam. Kau tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku. Lantas kau mendebat, tak mau mengakui jika aku hebat.

Sejak dulu aku tak pandai meracik bumbu. Bisaku hanya belanja dan memanjakan mata. Kau janjikan aku menjadi ratu, bukan sebagai babu. Apakah setelah melahirkan anak, dan tubuhku penuh lemak, kau perlakukan aku tak seperti binatang ternak?

Setelah kau bilang aku tak pandai meracik bumbu. Bisanya hanya belanja dan memanjakan mata. Aku sadar takkan pernah menjadi ratu, tapi seorang babu. Sejak melahirkan anak, dan tubuhku penuh lemak, kau perlakukan aku seperti binatang ternak.

Memang, nasi goreng itu buatanku

Nasi putih dan racikan bumbu sudah menyatu dalam sebuah wadah bambu. Aku ragu kalau nasi goreng itu bisa memanjakan lidahmu. Aku cemas kau akan tewas oleh rasa pedas. Atau kau akan geram karena terlalu banyak garam. Dan aku yakin kau akan marah karena warna nasi gorengnya terlalu merah. 

Kau boleh tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku
Seorang penjual nasi goreng melintas, seakan ingin membantu dengan ikhlas. Dalam beberapa menit, nasi putih dan racikan bumbu sudah menyatu dalam sebuah wadah bambu. Aku tak ragu kalau nasi goreng itu bisa memanjakan lidahmu. Aku tak lagi cemas kau akan tewas oleh rasa pedas. Kau tak perlu geram karena sudah cukup garam. Dan aku yakin kau tak akan marah soal warna nasi gorengnya yang terlalu merah.

Di sisa malam hingga dingin tenggelam, kau masih menyimpan dendam. Kau tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku. Lantas kau mendebat, tak mau mengakui jika aku hebat.
Dibalik tirai jendela kulihat kau sedang berkelana. Menyusuri tempat sampah untuk menemukan bukti sah. Untuk meyakinkan hatimu, benarkah nasi goreng itu buatanku? 

"Bukan" jawabku. Kau tak perlu mencari nasi goreng buatanku, karena seorang penjual nasi goreng yang melintas, telah melahapnya dengan ikhlas.

27 July 2012

TENTANG GARAM DAN SAYUR OSENG KANGKUNG

Kau marah karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu.

Amarah memuncak, meledak, dan beranak pinak. Semua umpatan sebisanya kau lemparkan. Caci maki menyertai. Istri bodoh. Selalu saja ceroboh.

Kau marah karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu?

Kau bilang sangat sibuk dan tak bisa jemput. Kau minta aku menjemputnya dari sekolah. Aku bergegas berangkat, seketika kau menutup telepon. Setelah jemput anak, mampir ke rumah kakak, bantu bikin kue untuk persiapan lebaran. Kau minta aku tetap tinggal di rumah kakak, hingga kau datang menjemput. 

Aku memang Istri bodoh. Selalu saja ceroboh. 

Aku bergegas berangkat, seketika kau menutup telepon. Setelah jemput anak, aku tak mampir ke rumah kakak, bantu bikin kue untuk lebaran. Aku tak berada di rumah kakak, hingga kau datang menjemput.

Aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu.

Aku bergegas berangkat, seketika kau menutup telepon. Setelah jemput anak, aku kembali pulang ke rumah. Kau pasti marah jika aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu. Sampai di rumah, kulihat pintu rumah terkunci dari dalam. Aku cemas, takut jika perampok sudah berkemas. Tak ada waktu untuk meneleponmu. 

Aku bukan Istri bodoh. Tak lagi ceroboh.

Perlahan kubuka pintu depan. Dengan langkah mengendap, kuperiksa semua bagian. Tak ada perabot yang diserobot. Almari masih terkunci. Meja kursi tetap rapi. Barang-barang tak satupun yang hilang.

Benarkah kau marah karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu?

Pintu kamar terbuka lebar. Ada sepasang binatang sedang telanjang. Saling mencium bikin nyeri tulang sumsum. Gemulai menari di atas ranjang kami. Hingga binatang itu mengerang lalu menikmati rasa kejang. Sepasang binatang kelelahan, dan menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata istri bodoh yang dianggap selalu ceroboh sedang mengamati.

Sepertinya kau marah bukan karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu, tapi karena kau ceroboh dan telah membodohi istrimu.



24 July 2012

JEJAK

Aku sedang mencari cari. Menelusuri jejak setiap nama yang pernah singgah. Entah lama atau barang sejenak. 

Kamu, sudah cukup lama berdiam diri. Tak ubahnya seperti anak kecil yang malu-malu menerima angpao. Lalu menyimpannya hingga lama. Kau teramat takut untuk membuka isinya. 

Kamu sudah cukup lama duduk di bangku ini. Tak ada yang tahu, siapa yang sedang dinanti. Wajahmu penuh yakin, jika penantianmu akan berujung manis. 

Seperti ketika malam itu, kau dan aku duduk berdua. Bukan di rumput yang lapang, bukan pula di bawah bintang malam. Kita menikmati malam kamis di sebuah trotoar, beradu dengan kepulan kopi susu.

Seperti pula malam ini, aku sedang mencari cari. Menelusuri jejak setiap nama yang pernah singgah. Entah lama atau barang sejenak. Kutemukan namamu, yang tak pernah pergi dari bangku hatiku, berdiam diri menunggu saat yang tepat membuka angpao.

Kau simpan cintamu terlampau lama, aku lelah menanti. 


22 July 2012

CATATAN KECIL DAFTAR TAGIHAN DENGAN JUMLAH YANG TAK KECIL

Jika bukan karena voucher gratis itu, saya tak akan pernah injak kaki di fitness room. Untuk alasan apa pun. Meski badan sudah melar. Perut sudah kendur. Apalagi payudara yang sudah turun drastis hingga sepuluh senti.

Voucher gratis yang diberikan oleh tangan manis sang resepsionis. Setelah pesta kecil dan paket ingar bingar yang saya pesan Sabtu malam. Menambah daftar tagihan yang harus dibayar tanggal jatuh tempo datang.

Gajian masih sebulan lagi. Tapi kepala sudah terasa nyeri. Setiap kali menjumpai catatan kecil yang berisi daftar tagihan dengan jumlah angka yang tak kecil. Kalau begini caranya, kapan bisa nabung dan pergi haji?

Seorang pria dengan tubuh tegap berisi, datang menghampiri. Melihat saya bingung sendiri. Dengan kostum yang tak serasi. Dan tanpa kaos kaki. Saya salah kostum, semestinya pakaian saya bukan ini. Tapi, mau gimana lagi? Saya sudah terlanjur berada disini.

Lebih baik saya bilang apa adanya. Saya ngga pernah fitness, ngga pernah olahraga. Jika bukan karena voucher gratis itu, saya tak akan pernah injak kaki di fitness room. Untuk alasan apa pun. Meski badan sudah melar. Perut sudah kendur. Apalagi payudara yang sudah turun drastis hingga sepuluh senti.

Lalu, pria tegap itu tertawa lucu sambil merangkul pundak saya yang hanya sebahu. Dengan bahasanya yang seperti guru, saya menebak dia instruktur di tempat fitness itu. Dia merayu, membujuk, dan pada akhirnya menyuruh saya untuk menjadi member pria tegap itu. Dalam satu bulan, badan menjadi kencang, perut tak lagi kendur, dan payudara kembali seperti masih SMU. Hanya denga tiga ratus ribu.

Mendengar rupiah, ingatan saya langsung lari kencang menuju tagihan. Gajian. Cicilan. Uang jajan anak. Iuran listrik bulanan. Pajak motor kendaraan. Dan tabungan. 

Gajian masih sebulan lagi. Tapi kepala sudah terasa nyeri. Setiap kali menjumpai catatan kecil yang berisi daftar tagihan dengan jumlah angka yang tak kecil. Kalau begini caranya, kapan bisa nabung dan pergi haji?

19 July 2012

FIKSI

Siang menerjang jalan. Panas menjadi nyata. Tak lagi ada mendung sendu. Yang ada hanyalah langkah terburu. Ingin segera bertemu. Jika tidak, marahmu akan terus menderu. Bagai laju angkot yang penuh bau.

Ini hari Minggu. Aku telah janji akan menemui orangtuamu. Meski akupun ada janji selain denganmu. Tapi aku terus melaju. Yang ada hanyalah langkah terburu. Dan aku tak mau, kau ucapkan kalimat itu, "Mulutmu bau busuk, bisanya janji melulu"

Ingin sebenarnya jauh hari kusampaikan ini. Satu kesempatanku menjadi manusia sejati. Menjadi pria yang tak hanya minta uang mami. Yang ingin sesekali membelikanmu rok mini. Supaya paha putihmu bisa mudah kumasuki.

Tapi kamu tak pernah peduli. Kamu hanya mau aku mengerti. Minggu ini adalah hari yang kau nanti. Aku harus datang dengan sejuta cerita pemikat hati. Kisah yang telah tersusun rapi. Supaya orang tuamu menyetujui. Kamu dan aku menjadi suami istri.

"Nama saya Soni. Saya punya usaha sendiri. Meski masih kecil, tapi saya sudah mandiri. Usaha saya di bidang publikasi. Saya yakin satu tahun lagi, bidang seni publikasi ini akan sangat diminati."

Nama saya Soni. Saya menganggur sejak lulus SMU. Sehari-hari, saya diminta mami untuk membantu. Hari ini, Minggu adalah hari yang saya tunggu. Karena setelah satu bulan menunggu, akhirnya saya mendapat panggilan interview. Saya melamar kerja di Rumah Yatim Piatu. Menjadi guru bagi anak yang tak mampu.

Dan aku tak mau mengacau rencanamu. Kulupakan panggilan interview. Demi kisah fiksimu. 


18 July 2012

MALAM, JAUH LEBIH SETIA DIBANDING KAMU

Sejak sore tadi kepalaku sudah terasa pusing sebelah. Bukan karena Supervisor datang berkunjung ke Area. Bukan pula masalah target yang selalu kejar-kejaran dengan tanggal.





Barangkali karena ini sudah mendekati tanggal dua puluh dua. Tanggal jatuh tempo pembayaran cicilan hutang. Atau bisa jadi karena siang tadi tak sempat ngopi. Dan pasti, pusingku ini karena kau tak pulang lagi malam ini.


Sudah jam dua belas malam lewat, dan kau belum juga datang mengetuk pintu. Ku masih menunggu. Meski berulang kali kutahan mata yang tak sabar ingin menangis. Ah, kau tak perlu ditangisi. 

Bukan, ternyata aku bukan menangisimu. Aku menangisi malam ini, yang terasa panjang hingga aku tak sanggup menghitungnya. Berapa kali kau akan membiarkanku sendiri?

Malam, jauh lebih setia dibanding kamu.



17 July 2012

GURU, TAK HANYA PUNYA ILMU

Namanya Heru Susanto.
Seorang guru, kelahiran tahun enam puluh lima. Dengan sepeda motor vespa pergi mengajar ke sekolah.





Anak-anak menyapanya Pak Heru.

Pria yang tak hanya dianggap guru, tapi juga bapak oleh siswanya. Mau berbagi apa saja kepada anak didiknya. Tak pernah ragu untuk membantu.

Dia Pak Guru yang seharusnya ditiru.
Karena dia, bersedia menanggung biaya kost siswanya yang tak mampu. Mencarikan orang tua asuh bagi anak didiknya yang datang dari jauh. Dan dia, tak pernah mengeluh.

Wajar saja saya termangu. Siang tadi, saya sedang duduk di sebuah kantin sekolah. Berbincang dengan seorang guru, Pak Heru Susanto. 
 
Datang seorang siswa, berbagi masalah biaya kost nya, delapan puluh ribu rupiah per bulan. Vony, nama siswa kurang mampu itu. Datang jauh dari Ngawi, ingin sekali memburu ilmu. Mencari guru yang mau membantu, barbagi dengan setulus hati.

"Belajar di sekolah saja tak cukup, seorang anak juga membutuhkan tempat tinggal yang nyaman untuk belajar. Jika orang tuanya tak sanggup, apakah mungkin saya tinggal diam?" 

Tidak semua guru bisa mengucapkan kalimat tersebut!

16 July 2012

I WANNA LOST

Terkadang saya ingin tersesat, berada di angka nol dan siap melaju menuju titik temu. Saya ingin lupa kalau saya telah berjalan cukup lama. Memikul beban yang ternyata semakin bertambah di setiap pos peristirahatan.


Ketika pagi membuka mata, saya ingin melihat dunia baru tersenyum lantas memeluk dan menciumi disetiap lekuk tubuh, melalui embun pagi yang abadi.


Bukan lagi prosedur dan manajemen yang menuntun saya pada kata Target. Saya ingin hati dan alam ini menyatu, mengatur setiap langkah kaki, menjadi kado terindah semasa saya berinteraksi dengan bumi.


Dan, saya butuh satu menit untuk diam, tak ingin mendengar perintah siapa saja. Biarkan udara mengisi penuh ruang jiwa, menggantikan ruang hampa yang memburu ingin ditempati.


Saya ingin pergi, ke tempat baru dimana langit dan angin telah menanti.

MOM = SOLDIER

Saya masih menerka-nerka isi dari tulisan Dee dalam blog berikut : http://dee-idea.blogspot.com/2009/08/manusia-bukan-mama.html 
Sebenarnya sih simple, sebuah curahan hati antara hubungan anak dan orang tua, terutama Mama. Begitu banyak istilah asing yang bising, karena saya si kerdil yang tak banyak tahu isi kamus bahasa Indonesia secara luas.

Saya hanyalah orang biasa dengan pendidikan sekolah dasar hingga kuliah tingkat diploma, tanpa kelas khusus Bahasa Indonesia yang majemuk itu.
Saya belajar banyak tentang kata yang tak biasa. Yang tak banyak orang mengucapkannya. Yang hanya beberapa kali saya baca dari tulisan seorang novelis sekelas Dewi Lestari.

Manusia Bukan Cuma "Mama" karya Dewi Lestari, membenarkan apa yang telah saya alami. Cerita ini berisi tentang anggapan-anggapan konyol seorang Mama dalam memperlakukan anaknya. Dan begitu sebaliknya, seorang anak yang tak sanggup terbuka pada Mama karena anggapan atau kelaziman memperlakukan Manusia itu sebagai Mama.

Dan saya pun telah mencoba untuk meruntuhkan anggapan kolot yang bisa menciptakan jarak antara orang tua dan anak. Saya berusaha memberi kesempatan pada Benjamin (anak lelaki saya), bahwa saya, Mamanya yang tak melulu menganggapnya sebagai Anak yang harus dijaga dan diawasi. Jauh lebih bermakna jika saya membiarkannya mengolah pikiran dan menterjemahkan arti Mama baginya.

Karena bagi saya, Mama bukan hanya seorang yang penuh kasih sayang. Mama lebih dari itu. Mama menjelma menjadi prajurit, ketika kau berdiri sendiri di medan perang.

12 July 2012

REVIEW : MADIUN JAZZY COUSTIC FESTIVAL 2012



Oki (Madiun Jazz Community) berbagi perkembangan musik Jazz di Madiun

Niko, salah satu musisi Jazz juga ikut nimbrung soal Jazz di Madiun

Rainbow and The Sun, mengubah Padi dan Dewa 19 menjadi Jazzycoustic

Oki, unjuk kebolehan permainan gitar

Some and Friends Project, meramaikan dengan lagu Harvey Malaiholo

Band Performer dan Sponsor yang support

Bapak Basuki (Wismilak) menyerahkan Piagam Penghargaan

DON JUAN, memainkan Beatles versi akustik

REA Band, lebih ke Pop Akustik dengan membawakan lagu Raisa

JIVANA, mengusung lagu ciptaan sendiri. Kalo disimak sih, gayanya mirip almarhum Chrisye. Lihat deh style vocalisnya.

Jammin' Desy (vocalis Rea Band) dan Hendy (additional gitar Jivana)

Dinda, si Anak bersuara merdu bawain lagunya Whitney Houston, merinding!

PING ME, band Pop yang fresh!

setiap dari kita pasti punya tujuan. saat pagi, pertama kali membuka mata, pasti telah tersusun sebaris catatan akan kemana kita? 
beberapa diantara kita juga ada yang mulai merasa jenuh, ketika melakukan rutinitas yang sama. mengulang hal yang sama, tanpa ada perubahan. ini membosankan.
salah satunya adalah saya, yang tak hanya ingin menjadi biasa, meski kita berjalan di aspal yang sama. namun, dengan muatan otak yang berbeda, kita bisa menjadi lain. 
satu diantaranya yaitu Madiun Jazzy Coustic Festival 2012. ide kreatif yang tak melulu perkara laba. disini, sebuah kemerdekaan idealis sebuah event organizer dipertaruhkan. Selamat Menikmati !

02 July 2012

GROWTH OF LOVE

Jika kamu sedang kasamaran dengan kekasihmu, itu hal yang wajar. Dan bila kamu melakukan apapun untuk kekasihmu, seperti membelikannya barang mahal, mengingatkannya untuk makan, menghiburnya ketika dia baru saja dipecat kerja, dan bahkan menidurinya atas nama cinta, itu juga hal yang lumrah.



Namun, ada satu hal sulit yang jarang bisa kamu lakukan. Sesuatu yang memaksamu untuk menyerah dan mengaku rela. Mengendurkan ikatan kuat yang telah lama kau siapkan untuk menuju kesempurnaan. Yaitu membiarkannya melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Titipkan saja cintamu padanya, dan biarkan dia merawatnya. Percayalah, cinta akan tumbuh meski dengan cara yang tak sama.



CINTA BERLABEL AGAMA

Tiap manusia punya masalah yang berbeda. Bervariasi dengan keunikan masing-masing. Ini cerita teman saya dari Jogja. Namanya Herman. Dia sudah menikah, dan bercerai tahun 2008. Lalu masalahnya? 

"Aku pengen balik sama mantan istriku..."


Glek! Saya diam sejenak. Ngga tahu harus komentar apa...
"Gini lho, menurutku ya... mantan istri tuh beda sama mantan pacar..." balas saya di BBM.

Lantas, saya pun kembali bertanya, "Kalo boleh tau, kenapa kamu cerai?"
"Mantan istriku pindah Budha. Ortuku ngga setuju. Akhirnya kita cerai."
Singkat yaaa... Mereka dinikahkan oleh Agama, dan karena Agama pula mereka diceraikan. Konyol, batin saya. 

"Aku masih cinta sama si mantan istri. Ngga bisa lupa. Belum bisa cari gantinya dia selama 4 tahun ini."

Meski ngga bertatap muka langsung, dan tak duduk di bangku yang sama, saya sangat paham dengan isi kalimat BB Messenger-nya. Sedih.
"Lelaki sejati pasti bisa memutuskan sesuatu dan berani ambil resiko."

"Kalo aku sih pengennya nurut sama ortu yang pengen menantu Muslim. Tapi aku pengen menantunya itu mantan istriku yang Budha itu..."

"Sepertinya susah ya... untuk mendapatkan dua-duanya. Kamu harus milih salah satu, dan tanggung jawab dengan pilihanmu itu... atau paling tidak untuk saat ini, kamu mengalir aja dulu mengikuti kehendak alam."

Dan sebenarnya, tadi saya ingin bilang ini ke Herman, tapi ngga jadi, takut salah arti... 
"Jangan berharap seseorang akan berubah seperti maumu. Karena sebenarnya yang harus dirubah adalah caramu memaksakan kehendak."

Mungkin Anda punya solusi?