30 December 2013

TOILET MINIMARKET

Bukan suatu yang mudah, seperti ketika kau melihat lawakan di televisi yang melahirkan tawa hingga pecah. Bahkan kau tak akan mempercayainya, ketika sepuluh menit berlalu, di sebuah toilet minimarket, dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh waktu, saling memandang, dan sepakat untuk bersama menggunakan toilet minimarket.



Sejak perjalanan keluar dari hotel, Ray sudah tak bisa menahan emosi. Dia telah mengorbankan jam kerjanya, dan pula uangnya untuk menyewa sebuah hotel yang mewah, berharap mulut perempuannya bisa melumat penisnya hingga muncrat. Dan kedua tangan kekarnya yang terlatih dengan barbell setiap pagi, bisa meremas dada perempuannya, yang lebih sering dipamerkan dengan kaos-kaos transparan style korea.
“kamu kalo pakek baju jangan yang ngeliatin belahan gitu kenapa sih?”
“ini modis, kenapa? Cemburu? Perempuan diluar sana juga banyak yang pakek baju kayak gini…!”

Hampir dua jam, Ray menunggu perempuannya yang katanya hanya sebentar mau keluar, mencari udara segar, sebelum mereka bercinta hingga terkapar dalam rasa lapar. Karena tak sabar, handphone pun disambar.
“halo!! Lama banget sih, kamu kemana?”
“ini lagi jalan-jalan, liat baju di butik, di sampingnya studio foto deket hotel. Bentar kok, tinggal bayar. Kamu siap-siap deh.”

Dalam sebuah malam yang penuh penantian, tentang perasaan lelah dan pikiran jengah, Ray putuskan untuk mengenakan lagi setelan kemeja dan celananya. Tak ada yang dilumat, apalagi diremas, Ray pun berkemas. Diujung pintu kamar hotel, perempuannya melongo dengan kedua tangan penuh tas belanjaan.
“loh, sayang mau kemana?”
“pulang.”

Di sebuah perjalanan pulang malam itu, kira-kira jam sepuluh malam, Ray menghentikan mobilnya di sebuah minimarket, sementara perempuannya masih saja mengunyah permen karet.
“mau ngapain sayang?”
“mau onani.”
“serius?”
“otakmu kebanyakan shopping, jadinya bego kayak gini ya…”
“ya, maksudnya ituuu, kamu mau beli apa? Aku nitip rokok ya!”

Ray semakin muak dengan perempuannya yang sama sekali tak merespon kekesalannya. Perempuan yang hanya bisa ditelanjangi setiap tanggal muda, saat dompet masih penuh dengan lembaran duit gambar sukarno hatta. Ray menghampiri penjaga minimarket, mau numpang toilet.
“mbak, disini ada toiletnya ngga?”
“itu mas, masuk aja, samping gudang mas.”

Bahkan, Ray tak sempat pipis di hotel mewah yang dibayarnya dengan uang yang sudah menipis. Dia hanya masuk, melepas baju, lalu mengelus penis, dan malam itu berujung miris. Dua jam hanya untuk menanti perempuannya yang katanya hanya sebentar mau keluar, mencari udara segar.

Di toilet minimarket, Ray bertemu seorang wanita berbaju ungu, mukanya lugu, tapi bikin nafsu. Ray dan wanita itu, dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh waktu, saling memandang, dan sepakat untuk bersama menggunakan toilet minimarket.

*

Setelah menunggu lama, akhirnya pesan pendek itu datang juga. Barisan kata yang dinanti, demi rupiah untuk makan selama sebulan ini, Wanda sudah melayani sejak Presiden RI masih Megawati. Hingga Presiden berganti beberapa kali, pekerjaannya masih sama, memanjakan peli.
“Wanda, untuk tamu yang satu ini, kamu harus nurut ya. Dia bayar mahal.”
“Halaaah… bayarnya emang mahal, tapi yang dikasih ke gue palingan ya cuman nopek!”

Meski bayaran selalu nopek, Wanda tetap saja tak berhenti jadi perek. Dan malam itu, Wanda hanya diminta telanjang, tubuhnya tak dipegang, apalagi digerayang, meski Wanda sudah tak sabar ingin mekangkang. Lalu, sesekali diminta berpose dan jepret sana, jepret sini.
“mas, ini gue cuman difoto? Enggak diapa-apain?”
“iya mbak.”
“tapi bayarannya ngga dipotong kan?”
“ya jelas enggak mbak.”

Sesekali fotografer itu mengarahkan Wanda untuk lebih santai, menikmati rasa seperti saat bercinta, dan memberikan aura orgasme, nikmat yang klimaks.
“susah mas, gue ngga bisa pura-pura orgasme, dipegang aja enggak!”
“coba dibayangin mbak, sampai keluar aura orgasme-nya, abis itu udah kok. Kurang dikit lagi.”

Jika harus telanjang lalu ngangkang hingga beberapa kalipun, Wanda sanggup. Tapi jika hanya membayangkannya, ini yang susah, tak mudah melahirkan gairah.
“gini deh mas. Elo telanjang sekarang, kita maen! Gimana?”
“maaf mbak. Saya ngga bisa.”

Wanda sudah tak sabar, jika harus menunggu pemotretan kelar. Dia nyerah, meraih bajunya dan berbenah, meninggalkan studio foto yang letaknya bersebelah dengan sebuah hotel mewah. Di sebuah perjalanan pulang malam itu, kira-kira jam sepuluh malam, Wanda menghentikan mobilnya di sebuah minimarket.
“mbak, ada toilet?”
“itu mbak, masuk aja, samping gudang mbak.”

Gara-gara menahan pipis, Wanda tak mampu menyelesaikan sesi pemotretan hingga habis. Meninggalkan fotografer konyol dengan umpatan perasaan dongkol. Dasar fotografer goblok!
Di toilet minimarket, Wanda bertemu seorang lelaki mengenakan setelan baju kerja, mukanya biasa, tapi nafsunya membara. Wanda dan lelaki itu, dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh waktu, saling memandang, dan sepakat untuk bersama menggunakan toilet minimarket.

Wanda dan Ray, dua orang yang tak saling kenal, sama-sama dikecewakan oleh pasangan, sama-sama ingin pakai toilet minimarket, untuk masturbasi dan onani.

**

27 December 2013

MATA INDAHMU BIKIN AKU GEGABAH, SUNGGUH BERGAIRAH


Sore ini, tentang matahari yang sempurna berada di ujung kanan mata saya, serta angin yang tak menyertakan butiran air hujan.

Sore ini pula, lahirnya angan-anganku tentang aroma sejuk perkebunan teh mengayunkan lagu sendu yang disusul nyanyian riang para gadis pemetik pucuk daun teh.

Sore ini, bagaimana saya kembali menata hancurnya hati yang dileburkan oleh dentuman iringan music sting dari mp three. Barisan nadanya masuk dada, menyelinap menghipnotis saya, “lupakan dia nak!”

Dan, sore ini pula, Tuhan mengirimkan sekotak cokelat cinta, sedikit pait tapi ini legit. Dalam rasa penuh lapar, cokelat itu nikmat. Sungguh memikat.

Dan, sebenarnya, saya hanya ingin bilang, “mata indahmu bikin aku gegabah, sungguh bergairah.”


23 December 2013

ADA YANG PATAH HATI DI CODE

Tiba-tiba saja saya ingat seseorang. Seorang lelaki yang tak sengaja saya kenal gara-gara salah nelpon. Niatnya mau telpon Mike, teman SMA saya. Harusnya 5 digit angka nomor handphone nya itu 22334 tapi saya salah ingat, jadinya 12344. Lalu, terhubunglah saya pada seorang lelaki, bernama Bayu.

Bayu, yang waktu itu sedang bikin workshop film pendek, ketika saya telpon, langsung interest dan mengira saya adalah peserta workshop. "Maaf mas, saya bukan mau ikutan workshop, saya temennya Mike. Masnya ini pacarnya Mike?" Ketika saya menjelaskan maksud saya tersebut, lelaki diseberang sana malah ketawa terbahak-bahak. Mengira saya mengada-ada, berpura-pura ingin kenalan dengannya, istilah jaman sekarang "modus".
"Bukan, saya ngga ada modus apa-apa. Saya benar-benar ingin bicara sama Mike..."
Lelaki itu malah balik me"modus"in saya. 

Yasudahlah.

"Masnya ini ke-ge er-an. Buat apa saya modusin kamu!" Lalu, lelaki itu mengarahkan saya untuk buka sebuah website.

Beberapa saat kemudian, saya baru sadar, saya salah nomor. Esoknya saya iseng buka website yang dibilang lelaki salah sambung itu. Sebuah website tentang workshop film pendek, dan sebuah nama Bayu Bergas lengkap dengan bio nya dan alamat blog nya. Rasa iseng saya seketika berubah jadi penasaran, setelah melihat fotonya yang "cakep".
Iseng, penasaran, jadi suka. Saya suka tulisannya. Jatuh cinta sama kisah-kisah di blog itu. Tiap hari, saya rindu membaca dongeng romantika yang dia rangkai dalam tulisannya itu. Ini pula yang membuat saya mengenal blogspot, kemudian rajin menulis.

Jatuh cinta ini mendorong saya untuk ingin mengenal si penulis. Kami janjian untuk bertemu, ngopi di Code, Jogja. Dia perjalanan dari purwakarta naik kereta menuju Jogja. Saya dari Madiun, Tawangmangu, lalu Jogja, naik motor bersama Dewi, sahabat saya. Malam, sudah jam sembilan. Kami bertemu di tempat yang sudah disepakati. Seorang lelaki dan perempuan menghampiri, tersenyum, mengulurkan tangannya, menjabat tangan saya, "Kamu septi ya? Ini kenalin, pacarku. Kalo ini siapa? Temen kamu dari Madiun?" Senyumnya memang manis, semanis fotonya, semanis tulisannya, tapi tak semanis gandengan tangannya yang menggenggam erat tangan perempuan disampingnya itu. Basa basi malam itu benar-benar basi!!

"Sudaaah, cukup cintai tulisannya, jangan orangnya..." Pelukan Dewi malam itu mengantarkan saya pada perjalanan panjang menembus dinginnya perjalanan Jogja-Madiun.

15 December 2013

COKLAT MONGGO, TASTE OF CHOCOLATE

Setelah sehari menginap Villa di Kaliurang, kami melanjutkan perjalanan pulang. Jika berangkatnya melewati Tawangmangu-Karanganyar, untuk perjalanan pulangnya kami pilih jalur Gunung Kidul-Wonogiri. Karena sebenarnya tujuan kami adalah melakukan perjalanan untuk mengusir penat.

Melintas Prawirotaman, kami putuskan untuk mampir di Coklat Monggo. Ini pertama kalinya saya ke café dan chocolate shop tersebut. Kalau menilik dari tagline nya, sepertinya tempat ini memang satu-satunya toko coklat terlengkap. Namun soal rasa, itu selera ya!


Tapi... soal interior, Coklat Monggo memang keren. Masih didominasi warna coklat kayu dan sentuhan modern berbahan kaca dan unsur tradisional dituangkan dalam patung-patung seperti arca yang berukuran besar sedang dan kecil.

Kalau melihat dari letaknya, café and chocolate Monggo ini di daerah guest house yang banyak dihuni bule. Saya langsung menerka, pasti harganya mahal-mahal. Apalagi pas banget ketika saya mampir disana, banyak bule yang sedang ngopi.

Namun, begitu masuk dan melihat langsung produk coklatnya, saya agak ngga percaya. Karena harganya tak terlalu mahal juga, tak seperti dugaan saya. Ada yang harganya hanya 27 ribu, sebatang coklat yang dikemas cantik dan disimpan dalam bungkus kertas daur ulang berlabel Monggo.


Kalau ada kesempatan ke Jogja lagi, saya harus mampir untuk menikmati coffee mix hot chocolate. Hemm, pasti rasanya… yummy :)





HILANG DI KALIURANG

Perjalanan berangkat ke Kaliurang, mampir Nasi Liwet Solo
bersama Niko, Indra, Wisnu Kuncen, Warih, dan Nofac

Nah kalo yang ini, Yuni,
kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh hahaha :D

Kemana pun pergi, tak pernah lupa bawa gitar.
He is musician, bro!

Suami dan anak saya

Villa yang kami sewa dilengkapi mainan
jungkat jungkit dan ayunan

Santai di Joglo sambil 'Take A Moment'

Suami saya


Di sebuah jalan menuju Kaliurang

Saya iseng saja motret ini, dan ngga proposional, payah!
soalnya motretnya dari dalam mobil dengan kecepatan sedang.

Benjamin (anak saya) dan Wen Wen (anak Yuni)

Wisnu Kuncen, Nofac, David JB, Benjamin, dan Wen Wen.
Istirahat sebentar di Bukit Bintang Gunung Kidul

MALAM HAMPA


Kuncup hidung saya sudah mulai membeku, ketika mobil sewaan yang kami tumpangi memasuki sebuah halaman yang dipenuhi tanaman perdu dengan kembang-kembang kecubung aneka warna : kuning, jambon, dan putih. Rumput dengan tinggi rata, yang senantiasa dijaga supaya tetap sama. Ada jungkat jungkit tepat di depan bangunan yang diterangi lampu kuning bening, disana kami akan beristirahat untuk malam ini hingga esok, sepakat terhadap pada hawa dingin lereng gunung merapi. 


Dinginnya semakin menjadi ketika saya keluar mobil, menyempatkan menghirup udara malam di pekarangan villa. Banyak pohon disana-sini. Dan jumper kuning yang saya kenakan tak cukup menghangatkan, saya putuskan untuk memasak air, entah kopi yang mana yang akan diseduh, karena disini tak ada segenggam pun kopi atau teh. 


Saya ambil sebatang rokok yang tadi saya beli di sebuah kantin saat berhenti isi bensin. Sambil berjalan keliling villa, saya jumpai di tengah areal villa-villa ini sebuah rumah joglo, gelap. Saya amati cukup lama, berusaha menangkap adakah sesuatu yang saya temukan disitu, tak ada. Isapan terakhir, dan saya belum bisa menemukan sinyal, hanya SOS yang terlihat dilayar. 

"Jadi, saya akan menghabiskan malam ini tanpa secangkir kopi" batin saya sembari memandangi cangkir kosong dan air panas yang baru saja mendidih.

07 December 2013

MAMA DAN SEPATU NEVADA

Saya sedang duduk di lantai, beralaskan karpet merah bercorak tokoh kartun kesukaan anak saya, dan bersandar pada kaki sofa cokelat beludru yang dibeli kredit setahun yang lalu. Dari sini saya memandangi keluar, mengintip dari pintu yang terbuka sedikit, terlihat hujan ricik ricik, dan sepatu pantofel produksi rumahan yang saya dapatkan dari pasar tradisional.

Sepatu pantofel ini harganya murah, hanya tiga puluh tujuh ribu rupiah, meski desainnya menyerupai sepatu keluaran nevada, tapi ini harganya tak serupa. Saya beli karena tak ada sepatu yang layak saya pakai untuk kerja kantoran. Dan kalau siang, apalagi cuaca sedang panas bikin keringat makin deras, kaki saya ikutan berkeringat, kalau sudah begini baunya juga menyengat.

"Sepatu bermerk mall itu ngga bikin kaki bau. Makanya kenapa saya lebih suka beli sepatu di mall daripada beli di pasar, toh selisihnya juga cuma dikit kok..." Duh, seketika hati saya jadi sumpek ketika dengar seorang teman bilang begitu.

'Ketika gajian nanti, saya harus beli sepatu merk mall biar pas keringetan, kaki ngga bau lagi' angan-angan saya sambil memandangi kalender. Masih jauh tanggal yang saya tunggu.

Namun, ketika tanggal satu tiba, angan-angan saya sudah tiada, meski di tangan saya terdapat sepasang sepatu nevada.

"Terimakasih mama, udah beliin sepatu baru" senyum anak saya membuat saya merasakan seperti memakai sepatu baru juga.

~Jangan pernah membenci mama mu, kau tak tahu apa saja yang telah dia relakan untukmu~

05 December 2013

CINTAKU TERHENTI DI KAMU


Jika besok tak ada lagi matahari dan senyumanku diawal pagi, percayalah kau akan menemukan matahari yang indahnya melebihi matahariku. Dan senyuman yang melesung lebih dalam dari lesung pipiku.

Kau akan menantikan hari itu datang disetiap petang, seperti biasa setelah hari gajian tiba, kita makan malam enak bersama anak-anak. Lalu, aku menidurkan mereka, dan kau dengan cepat melesat ke indomart.  Dibawah rembulan malam, kita menghabiskan sebotol beer berdua, dan kadang kau minta lebih. 

Lalu, tak jarang pada malam-malam berikutnya, diisaat anak-anak sudah terlelap, kutarik lenganmu yang dipenuhi bulu itu, kita kelayapan mengitari kota hanya sekedar mencari angin malam.

Pasti kau akan rindu, pada hari dimana kita duduk berdua dikursi beludru, diapit ayah dan ibu, disaksikan bapak penghulu. Kau nekat bilang 'saya terima nikahnya bla bla bla' hanya dengan modal seperangkat alat sholat, dan bulatnya tekad. Kita mulai mengisi kamar kosong dengan almari, televisi, dan beberapa perabot mini. 

Dan kita telah melalui hari-hari yang dulunya sepi, menjadi lebih berarti meski banyak cek cok disana sini. Kau tetap menjadi suami dan aku istri. 

Aku bisa berdiri disini ~ ratusan kilometer diatas daratan, menyembul meraih awan putih, disekap dinginnya hawa puncak gunung ~ setelah ribuan detik menyendiri, mencoba merindukanmu, dan aku tahu, dengan begini kita akan saling menanti, sudah lupa seburuk apa isi hati, karena cintaku terhenti dikamu, suamiku.


Baca ini jika aku tak kembali

03 December 2013

MENEMUKAN CHILL OUT DARI KEDAI KOPI SEMALAM

semalam saya dan suami mencoba kedai kopi baru. sebenarnya sudah lama ada, hanya baru sempat saja. ada kayu dimana-mana. dan beberapa foto musisi legendaris menempel di dinding cafe itu. 'Wedhangan dan Jajanan' begitu terpampang di daftar menu. 



yang bikin nyaman, karena musiknya! musik yang mengalun syahdu, mulai dari jazz hingga bossas. disambung musik jenis chill out. nah! yang ini saya tak paham. "ini nih ma, yang namanya musik jenis chill out... asik didenger ya, sambil nyruput kopi" suami saya mulai manggut-manggut ngikut alunan musik chill out. 

iya, enak ini musik. bikin adem.



lalu, keesokannya, di kantor, saya sempatkan untuk searching di google. apa sih chill out itu? bertemulah saya pada deretan lagu siap download koleksi dari Instrumental Buddha Bar. apa ini? dan saya semakin penasaran. complete. sudah selesai saya mendownload, saatnya menajamkan kuping.

iya, enak ini musik. bikin adem.

dari kedai kopi yang semalam saya kunjungi, saya menemukan cinta yang dikemas dalam musik bernama chill out oleh Instrumental Buddha Bar. saya mulai jatuh cinta...

01 December 2013

COFFEE NIGHT

Kita memang hanya butuh secangkir kopi dan tak peduli itu arabica atau toraja. Itu kopi kelas satu atau dua, jika kita ke kedai kopi tujuannya untuk ngobrol dengan teman.

Saya duduk di kursi tinggi seimbang dengan meja bartender sebuah kedai kopi. Duduk tepat di depan mbak berkulit porselen, abis dia putih kinclong.

Pesanan sudah datang, hot kopi original, tanpa ampas. Di belakang saya beberapa cowok sedang asik lihat screen yang menayangkan sepak bola.

Dan saya masih menunggu seorang teman yang menemani ngopi malam ini. Sambil mengamati interior kedai kopi yang kebanyakan diwarnai barang-barang antik.

Daftar menu ditulis pada sebuah papan, dengan kapur warna warni. Harganya pun standar, kisaran 3000 hingga 6000 yang paling mahal untuk drink nya. Food nya kisaran 11ribu yang paling mahal. Aman!

Satu per satu, teman ngopi datang. Malam ini kita muda! Nongkrong dengan teman, satu kesempatan yang tak bisa ditukar dengan apapun. Karena teman, yang mampu bikin kita bisa bertahan, bahkan hingga tengah malam. Haha.

30 November 2013

ES KRIM PERTAMA

kapan terakhir kali kau makan es krim magnum?
waktu putus sama pacar? waktu pulang les, lalu mampir beli sambil nongkrong sama teman-teman? atau pas iseng aja ngga ada kerjaan, dan pengen banget makan es krim?




dari sini saya bisa melihat jelas sengatan sinar matahari melalui celah yang tak sempit. menabur seperti bintang di malam hari. menembus barisan dinding bambu yang sudah tak rapi. dan tumpukan debu yang menempel, menambah haru sekaligus pilu. disitu dua bocah tumbuh mengenal hidup yang sering redup. Muryani dan Yusuf, mereka kakak beradik. Muryani, SMP. Yusuf, SD. 

Siang itu saya menjemput Muryani dan Yusuf dari sekolah, lalu mengantarnya pulang sebentar untuk ganti baju, dan pergi lagi mengajak mereka jalan-jalan ke mall. seorang donatur yang baik hati, mempercayakan pada saya untuk membelikan keperluan sekolah dan beberapa baju bagus untuk mereka. setelah lelah keliling mall, saya mengajak Muryani dan Yusuf mampir ke swalayan, "Yuk beli es krim..." Ajakan saya disambut senyum ceria dua bocah ini.

"Kapan terakhir kali kalian makan es krim magnum?"
"Ini yang pertama kalinya mbak..." jawab mereka kompak.

Saya melongo, sementara Muryani dan Yusuf sedang asyik menjilat magnum.




YANG TERBUANG

Saya patut malu pada diri sendiri. Melihat rumah yang hampir roboh. Dinding yang lobang dimana-mana. Perabot makan yang hanya sekadarnya. Perapian yang tertata dari bata dan kayu ranting-ranting depan rumah. 



Saya tak pantas bersedih hanya perkara ingin sepatu baru dan tak diijinkan membelinya sama suami. Tak dibolehkan beli tas merek luar meski kw. Dan selalu dilarang belanja barang-barang tak penting yang bagi saya bisa menyenangkan hati perempuan dikala galau.


Saya wajib bersyukur, ketika melihat kondisi rumah orang-orang terbuang yang makannya pun kadang-kadang. Disana saya bertemu seorang ayah dan tiga anak-anaknya yang masih sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. "Kami hidup dari uang ngamen" lalu Bapak itu, Pak Sudiro, menyanyikan sebuah lagu bersama anak-anaknya...


kucoba bertahan mendampingi dirimu...
walau kadangkala tak seiring ceria
kucari dan selalu kucari jalan terbaik
agar tiada penyesalan dan air mata
(Pance Pondaag)

Kau tahu, hidupmu luar biasa!

28 November 2013

INGIN LUPA, ITU SAJA!

aku sudah tak sabar untuk segera terkapar di hamparan semak belukar, dibawah matahari dengan tangan telentang dan kulit yang siap terbakar. sejenak ku ingin lupa berapa rupiah yang harus terbayarkan setiap bulan untuk gerai spesialis pencerah kulit, aku hanya ingin bernafas bebas di kala hati sedang terhimpit.

dikitari burung gagak hitam yang sesekali mengakak 'ngaaakkk' seperti nyanyian kesunyian hati tak berpenghuni. 



lalu, aroma tanah basah menyergap, menghidupkan kembali indah bayangmu yang selalu ingin kuhapus, namun kutak bisa menghapus bayang-bayang yang mengawang dalam gelap malam...

masih dibawah langit yang sama, kupejamkan mata. tak ingin semakin lama, aku hanya ingin lupa, itu saja!

27 November 2013

SIANG ITU DI KEDAI KOPI

kemarin siang, saya menyempatkan waktu untuk keluar kantor, meski bukan jam istirahat. sudah jam satu siang lebih. berawal dari chat di wassap (bahasa gaulnya gitu). seorang teman saya, ingin ditemani ngopi. dia butuh seseorang untuk mendengarkannya. "Oke, jemput aku di kantor ya..."

tak lama kemudian, sekitar lima belas menitan, teman saya datang. seperti biasanya, dengan setelan baju favoritnya, hotpants dan t-shirt. mukanya nampak sendu. lalu kami melaju ke sebuah warung kopi depan stasiun. ini pertama kalinya kami ngopi disini. lumayan sepi siang itu.

tak butuh banyak waktu, dia mulai bercerita. masih kisah yang sama. ini soal perasaan perempuan. hati yang tak bisa dikelabui oleh suasana suka. kemudian dilanjutkan dengan menetesnya air mata. dia, perempuan yang biasanya terlihat kuat, bisa juga bersedih hingga menangis.

kubiarkan dia menangis. seperti secara pelan, kesedihannya merembes keluar melalui celah mata sipitnya. "Kamu pasti bisa melewatinya, hidup ini memang penuh tantangan..." rayuku setelah sekian menit aku terdiam ikut larut dalam kesedihannya.

tegukan kopi terakhir, dia sudah mulai nampak lega, terlihat dari senyum dan tawanya. dia, hanya butuh waktu, secangkir kopi, dan telinga yang mau mendengarnya.

'kau pun akan mengalaminya sep...' batin saya.


24 November 2013

IMPIAN DALAM MIMPI

Berikan padaku seribu menit, kan kusulam wajah indahmu dalam desisan angin malam. Kubangun kuil melebihi tingginya anganmu tentang romantika, menjangkau langit-langit impianmu. Dalam hitungan kalkulasi yang akurat, kumampu taklukan prajurit-prajurit dari penjuru mata angin untuk tunduk padamu.


Lumpuhkan segala titik nadiku, dan biarkan aku terjerat dalam pelatuk sekarat, kusanggupi jika itu bisa bangunkan kembali rumah cintamu yang mulai sunyi tak berpenghuni. Terlampau lama kau mengelana, mengejar mimpi yang hampir mati.

"Bangunlah permaisuriku" sebuah cincin emas tersemat dalam jari manis, semanis mimpi di siang bolong.

23 November 2013

PERAHU ABU DAN AIR DALAM BEJANA

Lepaslah... Lepas.

Perahu abu itu telah lepas dari genggam tangan, mengurai dan mencumbu dinginnya air keran yang tersimpan semalaman.

Perahu abu sendiri, bersandar pada air dalam bejana seng penuh karat, dalam malam pekat yang sudah lama menambat seperti nyanyian sunyi penyair dengan tempo yang lambat.


"Inikah sebuah takdir atau kebetulankah?" Perahu abu meluruhkan dukanya ketika malam beranjak lepas dan dingin semakin sunyi.

"Teramat cepat jika kau tanyakan, untuk apa kita dipertemukan" Dalam keheningan berkabut duka, air dalam bejana masih terasa dingin dan semakin menjerat setiap nadi yang menyentuhnya.

Dia dan dia, perahu abu dan air dalam bejana, membeku dalam malam sunyi yang tanpa mereka tahu, "kenapa kita dipertemukan?"

Lepaskan... Lepas!!

22 November 2013

HAI WANITAKU

Hai wanitaku, kau tak pernah tahu betapa aku sangat tersiksa, melihatmu kembali bahagia dipelukan kekasihmu, ya kekasihmu yang dulu katamu pernah mencampakkanmu, kekasihmu yang dulu selalu menyakitimu, kekasihmu yang tak pernah mengerti apa maumu.



Hai wanitaku, bicaralah padaku jika kau telah memilihnya kembali dan ingin melepaskanku, katakanlah jika kau ingin aku berhenti disini dan tak boleh lagi memandangimu, jangan kau diam dan tak bicara lagi padaku, kau menyiksaku wanitaku.

Hai wanitaku, kuharus menyeka luka, ini makin menganga. Jangan lagi kau torehkan sakit, rasanya makin menggigit, persis ketika kau mintaku untuk memberimu perhatian sedikit. Aku tak bisa mencintaimu jika hanya sejimpit, kumau banyak!

Hai wanitaku, kau harus tahu jika kumencumbu wanita lain, itu bukan untuk menyakitimu, bukan untuk melukaimu, bukan semata-mata ingin membuatmu tersayat. Inilah caraku untuk melupakanmu.

17 November 2013

ADA YANG INGIN AKU SAMPAIKAN

Ada yang ingin aku sampaikan, padamu yang berdiri disana. Yang hanya tahu bahwa kita telah selesai. Yang hanya sebentar saja dalam kebersamaan.

Ada yang ingin aku sampaikan, padamu sepucuk rindu yang berkejar-kejaran di ujung penantian. Yang kutahu ini melebihi rasa penasaran apa saja. Ini bukan sekedar kangen seperti lagu-lagu kasmaran.


Ada yang ingin aku sampaikan, padamu butiran debu yang menempel di dinding hati. Yang sulit untuk kubersihkan. Yang tak mudah seperti orang meludah. Ini deburan pasir yang pernah tertiup angin tepi pantai melekat dalam pekatnya sebuah kisah.

Ada yang ingin aku sampaikan, padamu. Aku sulit melupa.

01 November 2013

NAK, LIHATLAH!

Nak, lihatlah laut biru bersambut ombak mengepul berpadu putih itu. Tidakkah kau menemukan keelokan dalam setiap koyak tariannya?


Jangan kau takut akan tersesat dalam pelukan ombak itu.

Lihatlah birunya nak, anggun menenangkan.
Ciumlah aroma laut yang dihuyung angin tepian bibir pantai.

Nak, lihatlah rombongan air yang mengelana sejak comberan depan rumah kita, membawa setiap kenangan susah dan suka yang berujung di laut berombak itu. 


Tak perlu kau takutkan akan dibawa kemana jika kau bersama ombak putih mengepul itu. Dia adalah seruan perintah Tuhanmu yang akan membawamu pada kebaikan, dibalik segala rintangan dan tamparan kehidupan.

26 October 2013

KISAH SI BAJU KUNING

seperti isi lemari. ada beberapa baju yang sudah ngga muat, sudah ngga 'jaman' dan saatnya disendirikan, dimasukin kardus, lalu dibuang atau disumbangkan.
barangkali seperti itulah isi hati saya. banyak kotoran yang menumpuk, menyesaki isi ruang jiwa yang harusnya rapi dan bersih.

dan kemudian saya menemukan sepotong baju berwarna kuning, sebuah atasan yang tak lagi muat dipakai, tapi ini sebuah baju kenangan. haruskah saya buang? atau sebaiknya disimpan saja?
disitulah kamu mengisi almari hati saya. 

lalu, saya putuskan untuk mengemasimu. si baju kuning yang tak layak lagi, tak boleh lagi saya pakai, sudah saatnya kuberikan ke tubuh indah lainnya yang lebih sesuai dengan baju kuning.

saya insya Allah ikhlas.

17 October 2013

CERITA BOHONG

cinta itu seperti senyuman pagi yang tertuang dalam secangkir susu hangat, menyambutmu dalam pelukan tanpa perlu kau tanya, "ini bertahan sampai kapan?"

jika kuibaratkan... hawa sejuk pegunungan dibalut kabut senja dalam suasana sore disudut sebuah coffee shop dan kau duduk disampingku, memegangi erat tanganku, seakan kau takut kehilanganku, itulah kuanggap cinta.



lalu, sebuah malam yang tak ada rupanya, ditengah keramaian jantung kota, kau terdiam lama, menarik nafas dalam-dalam, memandangiku, lantas mencuri sejumput kenangan dari sejumput titik pada ujung mataku. aku menyebutnya, "kau mencintaiku?"

dan tak ada yang bisa mengira, satu hari yang lalu, kau dan aku bukan lagi seperti kue rangin yang hangat-hangat disajikan, atau kau menyerupai pudding yang lebih enak dinikmati saat dingin dan ngga melunak. aku pun juga begitu, bukan lagi telur mata sapi, aku lebih mirip telur yang tak punya mata hati. lupa akan segala kenangan yang pernah kuberi. seketika kulupakanmu.

ini cerita yang (bukan) sebenarnya. tapi inilah realita.

28 September 2013

HARI TANPA BLACKFOREST DAN LILIN DUA PULUH DELAPAN

ini tentang hari Sabtu yang ditunjuk Pencipta sebagai penanda, semakin tuanya saya. tentang sebuah tengah malam, dimana alarm berbunyi nyaring dari handphone saya. lalu lelaki kurus bermuka putih bersih itu terbangun, bilang "selamat ulang tahun"

ah, mainstream banget pah!

lalu saya kembali tidur. dia mau ngucapin selamat ulang tahun pada istrinya, harus dibantu alarm, itupun pakai HP saya. 

dan paginya, sekitar jam lima pagi, lelaki itu terbangun lagi, "selamat ulang tahun"

hemmm, masih ngantuk pah!

kemudian, Benjamin, bocah tiga tahun menciumi saya, "mama selamat ulang tahun"

makasih sayang...

beberapa notif masuk, dari facebook, twitter, bbm, sms dan wassap. trus, saya semangat banget balesinnya. ngobrolin sana sini, say thank you, dan bla bla bla.

begitu nyamannya saya dengan orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu mengenal saya. dibandingkan lelaki yang bangun pagi-pagi dan saya cuekin gara-gara nggak nyiapin blackforest dan lilin sebanyak dua puluh delapan.



i love u, my husband

setelah hampir dua belas jam berlalu, saya baru menyadari, dia yang paling mencintai saya, Nofac dan bocah kecil itu... Benjamin

15 September 2013

REVIEW : MINI WORKSHOP KELILING INDONESIA #BEBESTAR2013

peserta Mini Workshop Keliling Indonesia #bebestar2013
mengumpulkan video si kecil di meja panitia

suasana di ruang gathering

Ibu Mubarika, CEO Id Blog Network
menyerahkan piagam penghargaan kepada Ibu Fidrayani(narasumber)
aksi si kecil pamer bakatnya

Pada hari Minggu, 15 September 2013, Madiun kebagian sebagai kota pelaksana Mini Workshop Keliling Indonesia #BebeStar2013 yang diadakan serentak di beberapa kota. Jika sebelumnya di Kota Medan, kemudian Jogjakarta, kini giliran Madiun.

Acara cukup lancar dan meriah, meski pengunjung pada hari itu hanya kurang lebih 20 peserta, dikarenakan hari minggu yang biasanya digunakan oleh para pekerja untuk meluangkan waktunya khusus untuk keluarga dan anak-anak.

Yang menarik dari acara ini, narasumber yaitu Ibu Fidrayani, Dosen PABK di IKIP Madiun menjabarkan materi pengasuhan untuk anak usia 3-6 tahun secara simpel dan mudah dipahami oleh peserta gathering hari itu.

Hal-hal sepele yang sering kita abaikan ternyata memiliki dampak luar biasa bagi perkembangan anak di kemudian hari. Seperti contoh, memberikan pelukan sesering mungkin pada anak. Tidak mengucapkan kata 'JANGAN' pada anak, dan mengajarkan kedisiplinan pada anak sejak usia dini.

Wah, banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari acara Mini Workshop Keliling Indonesia #BebeStar2013. Banyak peserta yang menginginkan acara seperti ini digelar sesering mungkin, karena bermanfaat bagi orang tua dalam pengasuhan anak supaya tidak salah asuh.

Selain itu, berbagai hadiah dan merchandise juga dibagikan di acara tersebut.

10 September 2013

SUDAH CUKUP!

sudah cukup!
katakan "sudah cukup!" jika memang kau merasa muak. 
kau manusia, sebuah pribadi, bukan boneka atau benda mati yang tak punya rasa.


dan ketika kau katakan "sudah cukup!" hidupmu akan berhenti dari kepalsuan.

kau bisa rasakan, tak semua penolakan itu menyedihkan.
penolakanmu pada hidup yang tak sejalan.
penolakan pada cinta yang tak setara...

KAU PUDAR

pudar juga aroma pekat yang selama ini mengikat
perlahan kau surut dari derasnya air laut
jejak bayangmu tak lagi menapaki hamparan pasir pantai
tersapu ombak perasan air mata





kau yang dulunya kuat mendekap dalam setiap lelap
hingga ku tak menyadari tentang kepergianmu saat ini
kau yang tak pernah mampu kulepas, kala itu
kini, baumu bisa hilang dalam sekejap

dan aku sedang mencoba mengelabui rasa rindu, 
yang tak mungkin kubilang padamu


31 July 2013

TENTANG KAMU DAN HATI BASAH

Dengan hati setengah basah, kucoba nyalakan api dalam renung pengabdian
Hanya kosong yang kudapati dalam gerimis gelap di hati
Dan dingin... yang tak ingin diselimuti



Kau, hilang dalam sekali kedipan mata
Berlalu tanpa menyisakan rindu
Waktu pun tak mampu kembalikan jejak langkahmu

Dan gerimis membawamu kembali, dengan hati setengah basah
Sejuta pinta untuk sebuah nyala api renungan
Yang terasa, hanyalah sesak terik matahari...

Menjemur kisah yang termakan oleh waktu

27 July 2013

INI HIDUP

ada senandung tangis dalam malam purnama
disanding tawa para pemuja jaman
disematkan sepucuk surat tentang kekalahan
ditelan serentak berlumur dahak kesombongan



ini kisah kita, yang hanya mampu memandang bulan dengan mata telanjang
ini hidup kita, yang bisanya hanya meminta keajaiban datang menyapa, 
sementara kita sepasang tuli yang tak berguna
ini cinta kita, dituangkan dalam kertas buram, 
direndam dalam waskom penuh minyak jelantah
ini tentang waktu sekarang, yang akan kita kenang nanti,
ketika kehidupan bisa menjadi jilid dua seperti janji para pemimpin, sayang.

bermimpilah, hingga esok pagi membangunkanmu dalam senyuman matahari atau malah tangisan palsu para pelayat.

15 July 2013

MALAM INI REUNI DENGAN KOPI, BUKAN LELAKI INI...


ini malam yang bukan biasa. bersama enam lelaki yang sangat beda masing-masing pemikirannya. dan beberapa cangkir latte, cappucino, serta juice. di teras kafe baru yang lokasinya jauh dari kotaan. jauh dari riuhnya asap keras dunia huru hara. 

beberapa meter di depan sana, ada masjid ramai tadarusan. iya, ini bulan Ramadhan. 

setelah sekian lama, saya nggak ketemu orang-orang ini. ngopi bertujuh pun, saya tetep asyik online. hanya mendengar cerita mereka, mulai dari fotografi, judi togel, hingga ujung-ujungnya selalu purel. 

beberapa meter di depan sana, masih terdengar suara dari surau : tadarusan!

setelah beberapa bulan saya puasa tidak mencicipi kopi, inilah kopi pertama saya. Latte. saya sampai lupa rasanya. malam ini, saya reuni dengan kopi, bukan kelima lelaki ini.

04 July 2013

TAK NYATA

Lalu mendung itu, 
menggulung setiap lekuk kenangan.

Perlahan, gerimis mulai membumi... 
Menyapa partikel debu di hamparan mimpi yang telah lalu.

Rodamu terus mengayuh, 
melawan arus menuju ujung keyakinan yang mulai tergerus.

Kau, hilang dalam derasnya hujan sore itu, 
dalam lamunanku sekejap...
Dalam dekapan erat, kau tak nyata.

KITA INI SIAPA?

Karena kita memang tak lebih baik dari burung pelatuk yang berjajar di tepi dermaga, menanti rupa samar-samar ikan tengiri yang menari di lautan atas.

Kita, tak ubah seperti harimau kelaparan yang hanya ingin memangsa, tanpa menilik dulu kedalam hati kelinci yang mulai pasrah dan gemetaran.


Pemilik kita tak benar-benar yakin, apakah manusia bisa terbang tanpa merampas sayap si burung merpati, atau berenang sepanjang usianya hanya mengandalkan tangan dan kaki.

Ternyata memang sulit, jika kita hanya berjalan telanjang apalagi di tengah rembulan malam yang rupanya mirip telur dadar diatas penggorengan.

Kita ini siapa?

Kita tak pernah tahu, siapa yang ada dalam diri meski seribu cermin memandangi, sejuta umat beropini, bahkan jika kau sebar lembar-lembar pertanyaan ‘siapa kita’? sekalipun.

Dan Tuhanmu hanya mampu tersenyum, tanpa sepatah kata, ketika kau dengan malu-malu menanyakan siapa kita?

Kita terus memburu, mengejar, tak bosan menanya pada perempuan berperut keriput seperti kulit jeruk, “ibu, siapa kita?”


“Kalian adalah anak ibu” hanya ini kebenaran yang tak bisa disalahkan, oleh burung pelatuk, oleh harimau, bahkan oleh Tuhanmu!

12 June 2013

PERGI

Ada sepotong cinta yang tersisa, tercecer dalam remahan yang habis termakan nafsu
Sebutir kenangan yang menetes, dari derasnya air keringat kegilaan
Ada hidup yang melayang dalam bayang-bayang.
Sebuah kisah yang tak pernah tertuang dalam takdir.


Hari ini, kembali ku terkenang kepergianmu
Kau pergi seperti yang kuminta dalam setiap doa
Tapi mengapa, setelah sekian lama
Aku baru menyadarinya, sesungguhnya aku tak benar-benar ingin...
Kau pergi

Dalam kesengajaan, kulakukan apapun tentang kamu
Dalam kesadaran, kuingin kembali memanggilmu

Kau telah pergi

Surat cinta untukmu Bapak!